Ligaasia adalah agen bola terpercaya dan bertanggung jawab berlisensi Super Master yang melayani pembuatan account di Situs Perusahaan Betting Internasional.
Pencarian Data
Monday, January 20, 2014
GREATEST EVER MANAGERS MANCHESTER UNITED
On this day 20 years ago, the world lost one
of football's greatest-ever managers when Sir Matt Busby sadly passed
away. We will never forget him
Sejarah Hari Ini (20 Januari): Debut Paolo Maldini
Sebelum mengabdi 25 musim bagi AC Milan, jangan lupakan bahwa hari ini adalah awal kisah mengorbitnya nama sang legenda Italia di muka lapangan hijau.
Paolo Maldini membuat satu lompatan masif, tepat hari ini 29 tahun yang lalu, yakni melakoni debutnya sebagai pemain profesional bersama AC Milan di usia yang sangat belia: 16 tahun. Dalam debutnya tersebut, Maldini masuk sebagai pemain pengganti di babak kedua.Maldini mengikuti jejak ayahnya, Cesare, yang bermain di posisi bertahan. Dalam kurun 1954 hingga 1966, sang ayah memenangkan empat gelar Serie A dan European Cup - nama lawas dari Liga Champions - edisi 1963. Rupanya, sejarah hebat yang pernah dilukiskan sang bapak tertular pada sang anak.
Maldini lahir pada 1968 silam dan bergabung ke tim Muda Milan di usia 10 tahun. Di periode 1985, dia mendapatkan tempat di bench sebelum akhirnya mendapat kesempatan untuk mengukir momen paling membanggakan dalam hidupnya. Untuk kali pertama dengan seragam Rossoneri, dia melakoni penampilan perdananya dengan masuk sebagai pemain pengganti di paruh kedua laga kontra Udinese. Pertandingan itu berakhir imbang dan penampilan itu sekaligus menjadi satu-satunya kesempatan dia unjuk gigi di sebuah laga resmi Milan pada musim tersebut.
Seiring performa Maldini yang terus berkembang pesat, dia kemudian dipercaya untuk menjadi pemain reguler di musim selanjutnya. Dia pun mampu menorehkan total 40 penampilan di semua kompetisi.
Abdinya bagi Milan tercatat dalam 25 musim tanpa sekalipun pernah menanggalkan seragam Merah-Hitam. Dalam kurun waktu itu, dia telah memenangkan tujuh Scudetto dan lima trofi European Cup/Liga Champions.
Salah satu supremasi terbaik yang pernah ditancapkan Maldini bagi Milan ketika dia mampu mengantar Si Setan Merah merengkuh gelar ganda: Serie A dan Liga Champions di muism 1993/94. Catatan bersejarah itu berlanjut dengan kegemilangan sang bek legendaris membawa timnas Italia menjadi runner-up Piala Dunia 1994 - kalah adu penalti dari Brasil.
Atas kinerja luar biasanya itu, World Soccer Magazine tak ragu menempatkan namanya untuk merengkuh anugerah World Player of the Year pada 1994 - pertama kalinya penghargaan diberikan buat seorang defender.
Nama Maldini tak akan pernah lekang dengan sejarah besar Milan. Bicara Maldini, berarti bicara Rossoneri. Ketika dia telah jatuh-bangun dan pasang-surut dalam catatan 902 laga - rekor jumlah penampil terbanyak dalam sejarah klub - yang dilakoninya bagi Milan, maka pantas bila berbagai pihak akan selalu hormat terhadap pria 45 tahun ini.
Seedorf Dinilai Tahu Cara Memotivasi Pemain Milan
Milan - Mantan pemain AC Milan Alessandro Costacurta menilai bekas klubnya itu kini berada di tangan seorang pelatih yang tahu bagaimana caranya memotivasi pemain, seperti seorang manajer Inggris.
Clarence Seedorf telah melakukan debutnya sebagai allenatore Milan di San Siro, Senin (20/1/2014) dinihari WIB. Pria Belanda yang juga pernah bermain untuk Rossoneri itu menandainya dengan kemenangan 1-0 atas Verona.
Kendatipun di laga itu Milan cuma menang 1-0, Costacurta tetap mengaku sudah melihat Mario Balotelli cs tampil lebih progresif. Ia sekaligus menyemangati Seedorf untuk terus mengasah kemampuan komunikasinya dengan para pemain.
"Saya sudah pernah melihat percobaan bikin gol yang lebih minim. Saat memainkan satu penyerang, wajar untuk menciptakan sedikit peluang," komentar Costracurta kepada Sky Sport Italia yang dikutip Football Italia.
"Menggantikan seorang gelandang dengan seorang penyerang mengarah ke peluang lebih banyak, walaupun secara defensif harus bekerja lebih keras."
"Seedorf harus memperdalam pemahaman mereka, ia tahu bagaimana cara memotivasi para pemain. Ini adalah sebuah tim yang sudah kehilangan terlalu banyak poin dalam tekanan. Ia juga suka berbicara. Niatnya adalah untuk seperti manajer Inggris," papar Costacurta.
Clarence Seedorf telah melakukan debutnya sebagai allenatore Milan di San Siro, Senin (20/1/2014) dinihari WIB. Pria Belanda yang juga pernah bermain untuk Rossoneri itu menandainya dengan kemenangan 1-0 atas Verona.
Kendatipun di laga itu Milan cuma menang 1-0, Costacurta tetap mengaku sudah melihat Mario Balotelli cs tampil lebih progresif. Ia sekaligus menyemangati Seedorf untuk terus mengasah kemampuan komunikasinya dengan para pemain.
"Saya sudah pernah melihat percobaan bikin gol yang lebih minim. Saat memainkan satu penyerang, wajar untuk menciptakan sedikit peluang," komentar Costracurta kepada Sky Sport Italia yang dikutip Football Italia.
"Menggantikan seorang gelandang dengan seorang penyerang mengarah ke peluang lebih banyak, walaupun secara defensif harus bekerja lebih keras."
"Seedorf harus memperdalam pemahaman mereka, ia tahu bagaimana cara memotivasi para pemain. Ini adalah sebuah tim yang sudah kehilangan terlalu banyak poin dalam tekanan. Ia juga suka berbicara. Niatnya adalah untuk seperti manajer Inggris," papar Costacurta.
Copa del Rey - Messi Perkirakan Levante Takkan Ubah Gaya Main
Valencia - Barcelona cuma memetik hasil imbang saat dijamu Levante di Liga Spanyol. Bakal kembali melawat ke Ciutat de Valencia di Copa del Rey, Lionel Messi memprediksi Les Granotes takkan ubah gaya main.
Saat berhadapan dengan Levante, Senin (20/1/2014) dinihari WIB, Barca cuma memetik satu poin usai mengakhiri pertandingan dengan skor 1-1. Sempat tertinggal dari Levante atas gol yang dicetak Loukas Vyntra, Azulgrana bisa menyamakan kedudukan lewat gol Gerard Pique.
Kendati cuma memetik hasil seri, Barca tampil sangat dominan. Mereka dicatat oleh Soccernet melakukan 76 persen penguasaan bola, 17 kali melepaskan sepakan ke arah gawang, enam di antaranya tepat sasaran.
Tapi, lini belakang Levante juga bisa tampil prima hingga mampu menahan gempuran-gempuran serangan Barca itu.
Menatap pertandingan leg I babak perempatfinal Copa del Rey melawan Levante di stadion yang sama, Rabu (22/1) tengah pekan ini, Messi pun sudah mempunyai prediksi.
"Saya pikir Levante akan bermain dengan cara yang sama pada laga di hari Rabu," ucap Messi di situs resmi klub.
Soal hasil imbang saat melakoni laga di lanjutan Liga Spanyol, Messi pun juga memberikan komentar.
"Sungguh mengecewakan, kami melakukan semuanya untuk memetik kemenangan. Tapi, mereka menumpuk pemain di lini belakang dan tidak memberi kami ruang," striker asal Argentina itu.
"Sangat sulit untuk memetik kemenangan di stadion ini, tapi kami mencoba. Kami sudah cukup berusaha agar bisa memenangi pertandingan. Kami hanya sedikit kurang beruntung," imbuhnya.
Saat berhadapan dengan Levante, Senin (20/1/2014) dinihari WIB, Barca cuma memetik satu poin usai mengakhiri pertandingan dengan skor 1-1. Sempat tertinggal dari Levante atas gol yang dicetak Loukas Vyntra, Azulgrana bisa menyamakan kedudukan lewat gol Gerard Pique.
Kendati cuma memetik hasil seri, Barca tampil sangat dominan. Mereka dicatat oleh Soccernet melakukan 76 persen penguasaan bola, 17 kali melepaskan sepakan ke arah gawang, enam di antaranya tepat sasaran.
Tapi, lini belakang Levante juga bisa tampil prima hingga mampu menahan gempuran-gempuran serangan Barca itu.
Menatap pertandingan leg I babak perempatfinal Copa del Rey melawan Levante di stadion yang sama, Rabu (22/1) tengah pekan ini, Messi pun sudah mempunyai prediksi.
"Saya pikir Levante akan bermain dengan cara yang sama pada laga di hari Rabu," ucap Messi di situs resmi klub.
Soal hasil imbang saat melakoni laga di lanjutan Liga Spanyol, Messi pun juga memberikan komentar.
"Sungguh mengecewakan, kami melakukan semuanya untuk memetik kemenangan. Tapi, mereka menumpuk pemain di lini belakang dan tidak memberi kami ruang," striker asal Argentina itu.
"Sangat sulit untuk memetik kemenangan di stadion ini, tapi kami mencoba. Kami sudah cukup berusaha agar bisa memenangi pertandingan. Kami hanya sedikit kurang beruntung," imbuhnya.
Menyoal One-Man Team (Bagian 1) - Salahkah Membangun Tim dengan Bertumpu Pada Satu Pemain?
Katanya, Liverpool tidak bisa apa-apa tanpa Luis Suarez. Lalu kenapa? Membangun tim dengan fokus permainan pada satu bintang terbukti jadi salah satu jalur menuju kesuksesan.
Mari layangkan ingatan kita kembali ke musim lalu, pada kala Gareth Bale sedang jaya-jayanya bersama Tottenham Hotspur. Banyak yang berkata bahwa tanpa Bale, Spurs hanyalah sebuah tim papan tengah. Bale terlalu bagus untuk mereka. Musim lalu, bisa dibilang bahwa Spurs berlabel "one-man team". Sebuah atribut yang bisa berarti positif maupun negatif.
Permainan Bale begitu mencolok musim lalu. Namun, apakah ini merupakan sesuatu yang buruk?
Well, sejujurnya Spurs tanpa Bale seperti macan tak bergigi. Hal yang sama juga berlaku untuk Luis Suarez di Liverpool, Barcelona tanpa Lionel Messi, Real Madrid tanpa Cristiano Ronaldo, dan tim-tim berlabel one-man team lainnya sepanjang sejarah permainan ini berlangsung.
Pertanyaannya adalah, bolehkah tim-tim ini terlalu tergantung pada satu pemain saja untuk mencetak gol, assist, dan segala sesuatu yang lain yang berbau kebrilianan dalam menyerang? Jika memiliki senjata yang begitu tajam, kenapa tidak boleh memaksimalkan potensi sang senjata hingga ke titik tertingginya?
Menelisik Definisi One-Man Team
Sebelum berbicara banyak, mari bertanya. Apakah definisi dari one-man team? Percaya atau tidak, "one-man" tersebut bisa berarti banyak. Secara umum, pada banyak kasus, artinya adalah tim yang bergantung pada pemain yang paling bertalenta. Arti kata "paling" ini adalah "sangat jauh di atas rekan-rekannya".
Satu hal lagi yang tidak bisa dipungkiri adalah si pemain bintang pada one-man teambiasanya beroperasi pada area attacking third lapangan. Maknanya, ia adalah seorang pemain depan, atau pemain tengah yang gemar menyerang.
Contoh-contohnya seperti: Argentina dengan Maradona-nya pada Piala Dunia Meksiko 1986, Southampton dengan Matt Le Tissier pada tahun 1990-an, dan juga Blackburn Rovers dengan Alan Shearer kala menjuarai Liga Inggris 1994-1995.
Tim-tim di atas adalah tim yang dihuni oleh pesepakbola dengan talenta penyerangan yang luar biasa. Sementara pada kasus Barcelona (Messi) dan Real Madrid (Ronaldo), kedua tim ini memiliki mega-bintang yang juga bahu-membahu bersama pemain-pemain lainnya yang memang kelas dunia.
Dua Tipe One-Man Team
Ada beberapa perbedaan dari one-man team, yang bisa dilihat dari cara permainan sebuah tim. Secara umum saya akan membagi ke dalam dua tipe. Namun, masing-masing memiliki variasinya sendiri-sendiri.
One-Man Team tipe pertama adalah yang paling sederhana: tim yang membangun taktik dan strategi untuk memaksimalkan potensi satu pemain utama. Dari sinilah penggunaan istilah "one-man team" muncul.
Namun, meski terdengar sebagai strategi yang tidak bisa diandalkan, sebenarnya one-man team sudah jadi praktik yang lazim. "Sudah menjadi hal yang wajar untuk membangun sebuah tim di sekitar satu pemain yang paling menonjol", ujar Robbie Mustoe, mantan gelandang Middlesbrough yang sekarang menjadi seorang analis sepakbola.
Mari kembali ke ilustrasi Gareth Bale di Spurs musim lalu. Menurut Mustoe, Andre Villas-Boas mengerti bahwa dengan kemampuan Bale, pasti pemain ini dibutuhkan untuk berada pada area tengah lapangan. Akibatnya, AVB akan memastikan pemain-pemain lainnya untuk menutup ruang di sisi yang Bale tinggalkan.
"Kredit untuk Bale yang bisa memerankannya, dan juga untuk AVB yang menyadari pentingnya strategi tersebut untuk tim," tambah Mustoe.
Contoh lainnya adalah Messi pada musim 2010-2011, ketika ia mulai banyak mencetak gol. Pada musim sebelumnya Messi hanya mencetak 17 gol untuk Barcelona. Tapi, dengan skema permainan Barca, sampai sekarang angka gol Messi sudah lebih dari 200 gol (223 gol tepatnya, dan masih terus bertambah sampai saya menulis artikel ini, dan bertambah banyak lagi sampai Anda membaca artikel ini).
One-man team tipe kedua adalah tim yang biasanya tidak memiliki banyak cing-cong pada taktik. Pada tim seperti ini, ada kecenderungan pemain tampil menjadi "jimat". Salah satu contohnya adalah pemain seperti Michael Ballack, yang (hampir) bisa dibilang seorang diri saja berhasil membawa Jerman ke final Piala Dunia 2002.
Waktu itu, Jerman ke final dengan hanya mengandalkan dua pemain bintang. Bisa dikatakan, kiper Oliver Kahn adalah satu-satunya rekan setimnas Ballack yang bisa disejajarkan sebagai pemain kelas dunia.
Ballack adalah "jimat" Rudi Voeller. Pelatih Jerman ini tidak merancang permainan Ballack, tapi Ballack sudah dengan sendirinya bisa merancang permainan rekan-rekannya. Ballack tampil sebagai seorang gelandang perusak, perancang, dan pencetak gol dari lapangan tengah.
Ada beberapa perbedaan dari one-man team, yang bisa dilihat dari cara permainan sebuah tim. Secara umum saya akan membagi ke dalam dua tipe. Namun, masing-masing memiliki variasinya sendiri-sendiri.
One-Man Team tipe pertama adalah yang paling sederhana: tim yang membangun taktik dan strategi untuk memaksimalkan potensi satu pemain utama. Dari sinilah penggunaan istilah "one-man team" muncul.
Namun, meski terdengar sebagai strategi yang tidak bisa diandalkan, sebenarnya one-man team sudah jadi praktik yang lazim. "Sudah menjadi hal yang wajar untuk membangun sebuah tim di sekitar satu pemain yang paling menonjol", ujar Robbie Mustoe, mantan gelandang Middlesbrough yang sekarang menjadi seorang analis sepakbola.
Mari kembali ke ilustrasi Gareth Bale di Spurs musim lalu. Menurut Mustoe, Andre Villas-Boas mengerti bahwa dengan kemampuan Bale, pasti pemain ini dibutuhkan untuk berada pada area tengah lapangan. Akibatnya, AVB akan memastikan pemain-pemain lainnya untuk menutup ruang di sisi yang Bale tinggalkan.
"Kredit untuk Bale yang bisa memerankannya, dan juga untuk AVB yang menyadari pentingnya strategi tersebut untuk tim," tambah Mustoe.
Contoh lainnya adalah Messi pada musim 2010-2011, ketika ia mulai banyak mencetak gol. Pada musim sebelumnya Messi hanya mencetak 17 gol untuk Barcelona. Tapi, dengan skema permainan Barca, sampai sekarang angka gol Messi sudah lebih dari 200 gol (223 gol tepatnya, dan masih terus bertambah sampai saya menulis artikel ini, dan bertambah banyak lagi sampai Anda membaca artikel ini).
One-man team tipe kedua adalah tim yang biasanya tidak memiliki banyak cing-cong pada taktik. Pada tim seperti ini, ada kecenderungan pemain tampil menjadi "jimat". Salah satu contohnya adalah pemain seperti Michael Ballack, yang (hampir) bisa dibilang seorang diri saja berhasil membawa Jerman ke final Piala Dunia 2002.
Waktu itu, Jerman ke final dengan hanya mengandalkan dua pemain bintang. Bisa dikatakan, kiper Oliver Kahn adalah satu-satunya rekan setimnas Ballack yang bisa disejajarkan sebagai pemain kelas dunia.
Ballack adalah "jimat" Rudi Voeller. Pelatih Jerman ini tidak merancang permainan Ballack, tapi Ballack sudah dengan sendirinya bisa merancang permainan rekan-rekannya. Ballack tampil sebagai seorang gelandang perusak, perancang, dan pencetak gol dari lapangan tengah.
Lalu ada Diego Maradona pada kategori yang sama namun pada tingkat yang lebih "dewa". Ia membayar lunas kepercayaan Carlos Billardo untuk membangun skuad pemenang Piala Dunia 1986, Argentina, dengan kepemimpinan, kesaktian, dan juga kenakalannya.
Namun, bahkan salah satu pemain terbesar sepanjang masa pun menyadari bahwa ia bukanlah apa-apa tanpa 10 pemain lainnya.
Maradona tidak sendirian dalam berpikir bahwa satu orang tidak bisa memenangi pertandingan seorang diri. "Kamu tidak bisa membiarkan tim kamu berpikir bahwa mereka adalah one-man team", kata Dave Merrington, sang manajer Southampton pada era kejayaan Matt Le Tissier. "Kamu harus memastikan mereka menghormati peran-peran mereka dan juga rekan-rekan setimnya," kata Merrington.
One-man team mungkin akan berhasil. Tapi tidak dalam jangka panjang, jika si pemain bintang percaya dia melakukan itu semua sendiri. Dua contoh terbaik dari sang pemain egois adalah Romario dan Robin Friday. Saat bermain untuk PSV Eindhoven pada 1988, Romario merupakan pemain brilian yang bermain untuk dirinya sendiri dan berlatih untuk dirinya sendiri. Tidak heran kemudian ia malah dibenci rekan-rekan setimnya.
Cerita serupa juga terjadi pada Robin Friday pada tahun 1970-an. Digadang-gadang sebagai bintang Inggris, ia malah menghabiskan karirnya yang singkat bersama Reading di divisi tiga, karena dinilai terlalu egois.
Buah Simalakama Taktik One-Man Team
Salah satu peran manajer adalah sebagai penyeimbang. Adalah manajer yang harus memutuskan bahwa satu pemain akan menjadi titik fokus tim. Ia harus mempertimbangkan apakah "mengasingkan" salah satu pemain dari rekan-rekan lainnya adalah risiko yang layak diambil.
Banyak yang mengatakan seorang manajer harus menjadi seorang ahli taktik dan juga ahli psikologi. Sayangnya, hal ini akan sangat sulit berlaku bagi manajer yang mencoba membangun timnya di sekitar satu orang pemain saja.
Phil Brown mengaku kesulitan untuk membangun one-man team. Ini terjadi pada saat ia merancang formasi menyerang 4-3-1-2 Hull City pada 2009. Membuat fokus timnya pada gelandang magis Brasil, Geovanni, Brown sebenarnya sukses untuk membuat timnya berhasil bertahan mengarungi ketatnya Premier League Inggris.
Namun, Phil Brown malah berkata bahwa sebuah tim tidak dapat menang dengan mengandalkan individual, meski ia memiliki seorang pemain yang bisa melakukannya. Ini karena ia dihadapkan pada situasi yang serba salah.

Maradona tidak sendirian dalam berpikir bahwa satu orang tidak bisa memenangi pertandingan seorang diri. "Kamu tidak bisa membiarkan tim kamu berpikir bahwa mereka adalah one-man team", kata Dave Merrington, sang manajer Southampton pada era kejayaan Matt Le Tissier. "Kamu harus memastikan mereka menghormati peran-peran mereka dan juga rekan-rekan setimnya," kata Merrington.
One-man team mungkin akan berhasil. Tapi tidak dalam jangka panjang, jika si pemain bintang percaya dia melakukan itu semua sendiri. Dua contoh terbaik dari sang pemain egois adalah Romario dan Robin Friday. Saat bermain untuk PSV Eindhoven pada 1988, Romario merupakan pemain brilian yang bermain untuk dirinya sendiri dan berlatih untuk dirinya sendiri. Tidak heran kemudian ia malah dibenci rekan-rekan setimnya.
Cerita serupa juga terjadi pada Robin Friday pada tahun 1970-an. Digadang-gadang sebagai bintang Inggris, ia malah menghabiskan karirnya yang singkat bersama Reading di divisi tiga, karena dinilai terlalu egois.
Buah Simalakama Taktik One-Man Team
Salah satu peran manajer adalah sebagai penyeimbang. Adalah manajer yang harus memutuskan bahwa satu pemain akan menjadi titik fokus tim. Ia harus mempertimbangkan apakah "mengasingkan" salah satu pemain dari rekan-rekan lainnya adalah risiko yang layak diambil.
Banyak yang mengatakan seorang manajer harus menjadi seorang ahli taktik dan juga ahli psikologi. Sayangnya, hal ini akan sangat sulit berlaku bagi manajer yang mencoba membangun timnya di sekitar satu orang pemain saja.
Phil Brown mengaku kesulitan untuk membangun one-man team. Ini terjadi pada saat ia merancang formasi menyerang 4-3-1-2 Hull City pada 2009. Membuat fokus timnya pada gelandang magis Brasil, Geovanni, Brown sebenarnya sukses untuk membuat timnya berhasil bertahan mengarungi ketatnya Premier League Inggris.
Namun, Phil Brown malah berkata bahwa sebuah tim tidak dapat menang dengan mengandalkan individual, meski ia memiliki seorang pemain yang bisa melakukannya. Ini karena ia dihadapkan pada situasi yang serba salah.
Sebagai contoh adalah yang terjadi pada Matt Le Tissier ketika Alan Ball mencoba membangun tim Southampton di sekitar pemain jenius tersebut. "Ball menyuruh saya untuk selalu berada di tengah lapangan. Kemudian ia berkata kepada pemain lainnya bahwa sayalah pemain yang paling bagus, dan sayalah peluang terbaik mereka untuk keluar dari masalah. Jadi semuanya selalu mengoper bola kepada saya," ujar Le Tissier.
Dengan strategi itu, pemain yang terkenal dengan julukan Le God di pantai Selatan Britania itu mencetak 25 gol untuk menghindarkan The Saints dari degradasi pada musim 1994-1995. Ia juga mencetak 20 gol lagi pada musim berikutnya untuk membawa Southampton ke posisi 10 klasemen Liga Inggris.
"Selama saya bermain baik dan kami tidak kalah, tidak ada masalah. Tapi pada beberapa kesempatan ketika saya tidak bermain baik, saya merasakan ada sedikit kebencian dari rekan-rekan setim."
Ketika pemain-pemain istimewa ini berhasil bermain konsisten dan memenangkan pertandingan, pemain-pemain lainnya mungkin akan sedikit longgar kepada si pemain bintang pada saat pertandingan. Namun ketika mereka bermain buruk, semuanya kembali lagi kepada kultur tim. Pemain-pemain senior serta manajer memiliki peran jadi contoh untuk rekan-rekannya.
Sebagai manajer, ia harus bisa mengenal si pemain jenius ini. Manajer juga harus memiliki beberapa pemain yang bertipe krusial, sehingga terdapat keseimbangan yang baik: si pemain jenius ini akan berperilaku baik di dalam maupun di luar lapangan, juga anggota tim lain akan lebih mudah menerima peran si jenius sebagi fokus tim.
Ego bukanlah hal yang mudah untuk ditangani. "Setiap pemain butuh merasa untuk dibutuhkan, dicintai, dan dihargai. Itu berlaku tidak hanya untuk pemain-pemain yang istimewa saja," ujar Tom Bates, salah seorang psikolog olahraga.
Bates menggunakan contoh ketika Pep Guardiola mengizinkan Lionel Messi untuk bermain pada Olimpiade 2008 untuk Argentina. Pep, yang berhasil memenangi medali emas Olimpiade pada tahun 1992, bisa melihat hal ini melalui perspektif yang positif.
Hal ini terjadi jauh sebelum Messi menjadi mesin gol Barcelona. Kala itu Pep bisa berkata kepada Messi, "Pergi dan menangkanlah medali emas tersebut, tapi ketika kamu kembali ke sini, cetaklah banyak gol untuk kita," dan Messi melakukan semuanya. Itu adalah cara Guardiola untuk mengatakan, "Saya menghargaimu".
====
Dengan strategi itu, pemain yang terkenal dengan julukan Le God di pantai Selatan Britania itu mencetak 25 gol untuk menghindarkan The Saints dari degradasi pada musim 1994-1995. Ia juga mencetak 20 gol lagi pada musim berikutnya untuk membawa Southampton ke posisi 10 klasemen Liga Inggris.
"Selama saya bermain baik dan kami tidak kalah, tidak ada masalah. Tapi pada beberapa kesempatan ketika saya tidak bermain baik, saya merasakan ada sedikit kebencian dari rekan-rekan setim."
Ketika pemain-pemain istimewa ini berhasil bermain konsisten dan memenangkan pertandingan, pemain-pemain lainnya mungkin akan sedikit longgar kepada si pemain bintang pada saat pertandingan. Namun ketika mereka bermain buruk, semuanya kembali lagi kepada kultur tim. Pemain-pemain senior serta manajer memiliki peran jadi contoh untuk rekan-rekannya.
Sebagai manajer, ia harus bisa mengenal si pemain jenius ini. Manajer juga harus memiliki beberapa pemain yang bertipe krusial, sehingga terdapat keseimbangan yang baik: si pemain jenius ini akan berperilaku baik di dalam maupun di luar lapangan, juga anggota tim lain akan lebih mudah menerima peran si jenius sebagi fokus tim.
Ego bukanlah hal yang mudah untuk ditangani. "Setiap pemain butuh merasa untuk dibutuhkan, dicintai, dan dihargai. Itu berlaku tidak hanya untuk pemain-pemain yang istimewa saja," ujar Tom Bates, salah seorang psikolog olahraga.
Bates menggunakan contoh ketika Pep Guardiola mengizinkan Lionel Messi untuk bermain pada Olimpiade 2008 untuk Argentina. Pep, yang berhasil memenangi medali emas Olimpiade pada tahun 1992, bisa melihat hal ini melalui perspektif yang positif.
Hal ini terjadi jauh sebelum Messi menjadi mesin gol Barcelona. Kala itu Pep bisa berkata kepada Messi, "Pergi dan menangkanlah medali emas tersebut, tapi ketika kamu kembali ke sini, cetaklah banyak gol untuk kita," dan Messi melakukan semuanya. Itu adalah cara Guardiola untuk mengatakan, "Saya menghargaimu".
====
Unggul di Liga, Juve Takkan Sepelekan Roma di Coppa Italia
Turin - Di Serie A Juventus tengah mengungguli AS Roma. Dalam pertemuan pertama keduanya di ajang itu, Juve pun berjaya. Tetapi ini tak membuat Juve memandang sebelah mata Roma ketika kedua tim kembali berjumpa di ajang Coppa Italia.
Juve kini memuncaki klasemen Serie A dengan keunggulan delapan poin atas Roma di posisi dua. Selisih di antara kedua tim itu tak lepas dari kemenangan 3-0 Bianconeri atas Giallorossi di awal bulan ini.
Namun demikian, hasil itu diyakini takkan berimbas negatif buat Roma ketika saat menjamu Juventus di Olimpico, Rabu (22/1/2014) dinihari WIB, pada laga perempatfinal Coppa Italia.
"Saya berpikir Roma tidak akan terpengaruh dengan hasil di liga, mereka tim hebat," kata bek Juve Angelo Ogbonna kepada Sky Sport Italia dan dilansir Football Italia.
"Tetapi fakta bahwa ini merupakan pertandingan satu leg tidak akan mengubah sikap kami. Besok saya menduga adanya pertandingan taktis karena itu bukan pertandingan ulang."
"Ini adalah ajang yang berbeda daripada liga, meskipun Coppa Italia juga merupakan salah satu bidikan kami dan kami akan mencoba membawa pulang hasil positif," seru Ogbonna.
Perempatfinal Coppa Italia lainnya mempertemukan AC Milan versus Udinese, Fiorentina dengan Siena dan Napoli lawan Lazio.
Juve kini memuncaki klasemen Serie A dengan keunggulan delapan poin atas Roma di posisi dua. Selisih di antara kedua tim itu tak lepas dari kemenangan 3-0 Bianconeri atas Giallorossi di awal bulan ini.
Namun demikian, hasil itu diyakini takkan berimbas negatif buat Roma ketika saat menjamu Juventus di Olimpico, Rabu (22/1/2014) dinihari WIB, pada laga perempatfinal Coppa Italia.
"Saya berpikir Roma tidak akan terpengaruh dengan hasil di liga, mereka tim hebat," kata bek Juve Angelo Ogbonna kepada Sky Sport Italia dan dilansir Football Italia.
"Tetapi fakta bahwa ini merupakan pertandingan satu leg tidak akan mengubah sikap kami. Besok saya menduga adanya pertandingan taktis karena itu bukan pertandingan ulang."
"Ini adalah ajang yang berbeda daripada liga, meskipun Coppa Italia juga merupakan salah satu bidikan kami dan kami akan mencoba membawa pulang hasil positif," seru Ogbonna.
Perempatfinal Coppa Italia lainnya mempertemukan AC Milan versus Udinese, Fiorentina dengan Siena dan Napoli lawan Lazio.
Jones: MU Masih Layak ke Papan Atas
Manchester - Meski kalah dari Chelsea, bek Manchester United Phil Jones menyebut timnya tampil oke. Bek 21 tahun ini percaya secara kualitas permainan, 'Setan Merah' layak menempati papan atas klasemen Liga Inggris.
MU menelan kekalahan keempatnya dalam lima pertandingan terakhir yang dijalani, kala bertandang ke Stamford Bridge Minggu (19/1/2014). Anak asuh David Moyes kalah 1-3 lewat tiga gol Samuel Eto'o dan hanya mampu dibalas satu gol Javier Hernandez.
Jones pribadi menilai bahwa skor tak serta merta mencerminkan kualitas penampilan timnya. Menurut mantan pemain Blackburn Rovers itu, MU mampu mendominasi permainan dan secara taktik bisa menandingi Chelsea. Whoscored mencatat anak-anak Manchester memang sedikit lebih unggul penguasaan bola dengan perbandingan 56%-44%.
Nah, hal tersebut dianggap sebagai bekal bagus untuk bangkit dan mendaki klasemen liga di laga-laga berikutnya. Sementara kini MU mengalihkan fokus ke partai semifinal leg kedua Piala Liga kontra Sunderland, yang bertekad dimenangi demi kembali ke jalur kemenangan.
"Saya pikir kami tidak begitu jauh dari tim-tim yang berada di papan atas. Jika Anda melihat penampilan babak pertama kami melawan Chelsea dan terlepas dari kebobolan dua gol, kami tampil fantastis," kata Jones seperti dilansir situs resmi MU.
"Jika Chelsea adalah salah satu dari dua atau tiga tim terbaik negeri ini, maka saya pikir Anda harus mengatakan bahwa kami bisa berada di papan atas bersama mereka. Penampilan kami di babak pertama membuktikan itu," tambahnya.
"Mereka sedikit beruntung di gol pertama dan kami kebobolan dua gol ceroboh. Kebobolan tepat sebelum jeda pertandingan tidak pernah mudah. Sekarang kami perlu bangkit dan kami punya satu pertandingan penting Rabu malam nanti," lanjut pemuda kelahiran Preston ini.
"Saya katakan, kami tidak berjarak begitu jauh dengan mereka (Chelsea). Tapi kami perlu bersatu jika ingin membalikkan keadaan ini," demikian kata Jones.
MU untuk saat ini menempati posisi tujuh klasemen Liga Inggris dengan nilai 37 dari 22 laga, sementara Chelsea di peringkat tiga dengan 49 angka. Jones dkk. berjarak enam poin dari Liverpool di posisi empat yang merupakan batas akhir zona Liga Champions dan berselisihkan 14 poin dari Arsenal di puncak klasemen.
MU menelan kekalahan keempatnya dalam lima pertandingan terakhir yang dijalani, kala bertandang ke Stamford Bridge Minggu (19/1/2014). Anak asuh David Moyes kalah 1-3 lewat tiga gol Samuel Eto'o dan hanya mampu dibalas satu gol Javier Hernandez.
Jones pribadi menilai bahwa skor tak serta merta mencerminkan kualitas penampilan timnya. Menurut mantan pemain Blackburn Rovers itu, MU mampu mendominasi permainan dan secara taktik bisa menandingi Chelsea. Whoscored mencatat anak-anak Manchester memang sedikit lebih unggul penguasaan bola dengan perbandingan 56%-44%.
Nah, hal tersebut dianggap sebagai bekal bagus untuk bangkit dan mendaki klasemen liga di laga-laga berikutnya. Sementara kini MU mengalihkan fokus ke partai semifinal leg kedua Piala Liga kontra Sunderland, yang bertekad dimenangi demi kembali ke jalur kemenangan.
"Saya pikir kami tidak begitu jauh dari tim-tim yang berada di papan atas. Jika Anda melihat penampilan babak pertama kami melawan Chelsea dan terlepas dari kebobolan dua gol, kami tampil fantastis," kata Jones seperti dilansir situs resmi MU.
"Jika Chelsea adalah salah satu dari dua atau tiga tim terbaik negeri ini, maka saya pikir Anda harus mengatakan bahwa kami bisa berada di papan atas bersama mereka. Penampilan kami di babak pertama membuktikan itu," tambahnya.
"Mereka sedikit beruntung di gol pertama dan kami kebobolan dua gol ceroboh. Kebobolan tepat sebelum jeda pertandingan tidak pernah mudah. Sekarang kami perlu bangkit dan kami punya satu pertandingan penting Rabu malam nanti," lanjut pemuda kelahiran Preston ini.
"Saya katakan, kami tidak berjarak begitu jauh dengan mereka (Chelsea). Tapi kami perlu bersatu jika ingin membalikkan keadaan ini," demikian kata Jones.
MU untuk saat ini menempati posisi tujuh klasemen Liga Inggris dengan nilai 37 dari 22 laga, sementara Chelsea di peringkat tiga dengan 49 angka. Jones dkk. berjarak enam poin dari Liverpool di posisi empat yang merupakan batas akhir zona Liga Champions dan berselisihkan 14 poin dari Arsenal di puncak klasemen.
Subscribe to:
Comments (Atom)






