Pencarian Data

Thursday, February 13, 2014

(Uang) Asia Menggempur Sepakbola Eropa


Bukan. Bukan tentang para pesepakbola pemain Asia macam Shinji Kagawa atau Yuto Nagatomo yang mulai bermain di Eropa. Ada faktor yang lebih penting lagi dalam urusan sepakbola, yaitu sponsor Asia di liga-liga Eropa.

Kini Asia memang lebih banyak tampil di jersey, papan iklan di stadion atau kolom sponsor di situs klub-klub Eropa. Ya, kini Eropa memang diserbu oleh Asia. Uang dari Asia, lebih tepatnya.

Benua Kuning di Benua Biru

Mesti diakui bahwa ekspansi Asia ke sepakbola Eropa dalam satu setengah dekade ke belakang memang dimulai dari para pemainnya.

Walaupun bukan yang pertama datang ke Eropa, namun Hidetoshi Nakata mungkin yang paling fenomenal ketika mendarat di tanah Italia. Selanjutnya ada nama-nama seperti Ahn Jung Hwan, Park Ji Sung, Ali Daei, Lei Chung Yong, Shunsuke Nakamura, Kagawa, Nagatomo, dan terakhir Keisuke Honda. Amat banyak, bukan?

Ada argumen bahwa memiliki nama-nama Asia seperti disebutkan di atas akan memberikanincome tersendiri untuk klub. Alasan untuk mendongkrak popularitas tim pun nyata. Namun, lambat laun, ketika jersey pemain Asia tak selaris pemain-pemain top dunia, maka asumsi itu mulai dipertanyakan. Jangan-jangan, memang, klub Eropa tak sesederhana itu mencari uang dari Asia.

Soal kualitas pemain, Eropa memang lebih superior. Fakta ini belum terkalahkan dan belum terbantahkan. Dan superioritas inilah yang justru jadi pendorong utama pendapatan klub dari penjualan kaus. Jangan heran jika tetap saja jersey pemain-pemain top Eropa yang penjualannya di Asia paling konstan di atas rata-rata.

Sebagai contoh, lihatlah Real Madrid. Saat mereka ingin memasuki pasar Asia, bukan pemain asal Korea atau Jepang yang didatangkan oleh Los Galacticos melainkan David Beckham. Sebagaimana dituliskan oleh seorang jurnalis Inggris yang menetap di Asia, Martin Jacques, kala itu Real Madrid sukses menangkap fantasi masyarakat Asia, bahwa meski Asia memiliki kulit "berwarna", mereka ingin jadi "putih dan pucat" seperti bangsa barat. Tak heran jika pemain putih dengan kualitas superior seperti David Beckham jadi alat pemasaran yang efektif.

Maka argumen bahwa mendatangkan pemain Asia bisa jadi alat penjualan jersey pun sesungguhnya masih bisa diperdebatkan.

Demikian pula dengan Perugia. Ketika Perugia mengontrak Nakata, mereka berhasil menjual 7.000 potong baju dengan nameset sang pemain.Tapi coba bandingkan dengan pendapatan Fiorentina ketika menandatangani kerja sama dengan aktor Jepang lainnya, Nintendo, pada periode dekade yang sama. Tentu pendapatan Perugia dari penjualan 7 ribu jersey Nakata di negeri Sakura tak akan sebesar Fiorentina.

Ya, kita selalu mengharu-biru berasumsi bahwa dikontraknya pemain Asia oleh klub-klub Eropa adalah sebuah motif ekspansi pasar. Namun hal ini justru berbanding terbalik dengan realita hari ini. Asia-lah yang sebenarnya yang sedang sibuk mencari pasar.

Perlahan Asia yang sejak dulu dianggap inferior oleh Eropa mulai menunjukkan tajinya. Apalagi Eropa yang berbangga dengan nama besar dan ilmu pengetahuannya mulai menunjukkan kelemahan, terutama dalam sektor perekonomian. Great depression yang mencapai puncak pada tahun 2008 lalu juga belum sepenuhnya pulih. Eropa masih dilanda krisis. Tak terkecuali dengan sepakbolanya.

Ini mendorong satu fenomena baru, yaitu fenomena masuknya korporasi-korporasi Asia sebagai sponsor klub-klub top Eropa. Katakanlah ekspansi Asia jilid II.

Tengok saja bagaimana kerja sama Samsung dengan Chelsea yang bernilai 18 juta poundsterling per tahun. Atau kerja sama Fly Emirates dengan Arsenal, PSG, dan juga AC Milan, sampai-sampai, maskapai penerbangan itu membangun stadion Arsenal. Hal yang sama juga dilakukan Etihad Airways untuk Manchester City. Seolah tak ada yang mau mengalah untuk membuktikan siapa yang paling "wah" di Eropa. 

Entah berapa jumlah pasti uang yang digelontorkan perusahaan maskapai penerbangan dari negri Petro dolar tersebut. Yang jelas, kerja sama antara Etihad dan City di pertengahan tahun 2011 mencapai nilai 400 juta poundsterling. Sebuah nilai yang fantastis.

Seakan tak mau kalah dengan kompetitornya, Fly Emirates juga menunjukkan taringnya. Dan tampaknya penjaja jasa penerbangan ini sedikit lebih "gila". Arsenal diberi gelontoran dana sebesar 150 juta euro per-musim. PSG pun dihujani uang 110 juta euro tiap setengah dekade, sementara AC Milan mendapat jatah 60 juta euro per lima musim. Pun dengan penguasa La Liga, Real Madrid, yang mendapat kucuran dana sebesar 120 juta euro selama 5 musim.



Raksasa Spanyol lainnya, Barcelona, pun merasakan nikmatnya pundi-pundi milik Asia. Kontraknya dengan Qatar Airways yang senilai 30,5 juta Euro jadi nilai kerjasama tertinggi di Eropa saat ini.

Ihwal promosi di Eropa ini tak jadi hak eksklusif negeri kaya-raya. Yang kekuatan ekonominya segitu-segitu saja pun boleh ikut serta.

Adalah Chang, bir asal Thailand yang telah menempel di jersey Everton sejak tahun 2004, yang juga punya nilai kerja sama tak sedikit. Chang dan Everton kabarnya menandatangani kontrak sebesar $18,7 juta dolar per-tahun. Tengok pula Vincent Tan dari Malaysia yang secara mengejutkan melakukan rebranding Cardiff City dan berhasil menempelkan negara asalnya di kaos tim The Blue Bird.

Walaupun Tan tak terbuka soal berapa dana yang ia keluarkan, tentu kita dapat menduga berapa besar harga yang harus dibayar oleh konglomerat Malaysia itu.

Ada pula Garuda Indonesia yang menggaet Liverpool FC. Sebentar lagi logo maskapai Indonesia itu akan menempel di seragam latihan Liverpool, meski nilai kontrak kerja sama itu tak disebutkan secara gamblang. Namun yang jelas, pihak Garuda Indonesia berjanji akan membantu renovasi Stadion Anfield. Ini tentu berarti kerja sama kedua belah pihak tak sedikit nominalnya.



"Kami mendapatkan keuntungan banyak dari kerjasama ini," tutur ucap Direktur Layanan Umum Garuda, Faik Fahmi, di penghujung bulan Januari ini.

Bagaimana mungkin, maskapai hingga kini belum mempunyai trayek Jakarta-London atau Jakarta-Liverpool bisa meraup untung dari mendanai Liverpool FC? Kenapa tak mensponsori saja sepakbola lokal saja terlebih dahulu? Toh, Garuda Indonesia milik Indonesia, bukan Inggris.

Namun sekali lagi, bisnis memang tak mengenal kata identitas negara. Promosi tak melulu monoton dilakukan di host country. Seperti yang dikatakan Joseph Stiglitz, peraih Nobel Ekonomi pada 2001: "Bisnis selalu mengejar laba dan menghasilkan uang adalah prioritas utama." 

Asia yang Selalu (Dianggap) Inferior

Krisis global tahun 2008 telah menghancurkan banyak sendi-sendi ekonomi Eropa. Hal yang kemudian berdampak pada industri sepakbola Eropa. Angka pengangguran terus bertambah di negara-negara adidaya ekonomi. Ironis.

Pengangguran di Uni Eropa sempat mencapai angka 12%. Bahkan sampai tahun 2013, angka pengangguran di Spanyol mencapai 26,8%. Di Inggris angka pengangguran hingga bulan Januari 2014 masih mencapai 7,1%, atau jauh di atas angka 5% pada 2006. Hal yang mampu mencerminkan bagaimana kondisi perkonomian negara digdaya Benua Biru.

Bahkan, pemimpin Prancis, Nicolas Sarkozy, harus melakukan pertemuan khusus dengan Kanselir Jerman, Angela Merkel, untuk membahas paket-paket stimulus untuk mengeluarkan kedua negara dari krisis.Ketika Eropa mulai terpuruk, sepakbola harus diselamatkan, karena sepakbola adalah benteng terakhir agar Eropa tetap terlihat gagah di mata dunia. Sepakbola adalah salah satu bukti sahih kedigdayaan Eropa, dan hal tersebut tak boleh diganggu-gugat. Maka dari itu, kini sepakbola Eropa sedikit menurunkan egonya, untuk menerima si inferior bercokol di tanahnya sendiri.Situasi dan krisis itulah yang kemudian dimanfaatkan oleh banyak korporasi Asia. Eropa yang selalu memamerkan kejayaan ekonominya, kini perlahan menelan ludahnya. Mereka kini harus rela perkonomiannya disokong oleh benua yang pernah mereka anggap inferior.Bagi banyak perusahaan itu, tak jadi soal jika produk mereka tak laku di Eropa. Karena bukan itu yang hendak mereka cari. Mereka hendak melakukan penyeragaman pasar.Lagipula, dengan mensponsori banyak klub besar Eropa, otomatis akan menambah ke-bonafid-an perusahaan-perusahaan tersebut. Kenapa? Karena sepakbola adalah olahraga terpopuler di muka bumi ini, bukan lagi olahraga tontonan kelas bawah, namun juga tontonan masyarakat kelas menengah dan kelas atas.Selain itu, Eropa adalah kiblat peradaban dan selera dunia terutama untuk urusan sepakbola. Dengan menggaet mitra dengan tim-tim top Eropa, korporasi-korporasi tersebut sebenarnya sedang meminimalisir biaya promosi. Lewat sepakbola, pemasaran dan pengenalan produk barang dan jasa mereka akan lebih cepat sampai ke masyarakat.Faktor lainnya adalah, sebagian besar Eropa telah terintegrasi lewat organisasi regional mereka, Uni Eropa. Dan meski membangun pasar baru bukan jadi tujuan utama, kondisi ini tentu akan memudahkan arus aliran barang dan jasa korporasi-korporasi Asia.Dalam hal sepakbola, UEFA sebagai organisasi yang mengayomi klub-klub sepakbola di Eropa pun sudah punya regulasi tersendiri untuk para investor. Hal ini tentu akan meningkatkan rasa aman berinvestasi jangka panjang pada ranah sepakbola.Tentu Anda masih ingat, bagaimana bersemangatnya Green Peace untuk menentang Gazprom pada laga FC Basel vs Schalke 04, Oktober lalu. Sekalipun itu sebuah tindakan protes atas pengeboran minyak di daerah Arktik, toh, perusahaan energi Rusia yang mensponsori Schalke tersebut tetap saja bebas berpromosi di jersey Schalke.Ya, rezim UEFA telah menciptakan rasa aman bagi para investor yang ingin berinvestasi di sektor sepakbola. Anda punya uang, silakan masuk. Anda tak cukup banyak uang, silakan membeli tiket pesawat dan ikut tur ke stadion-stadion. Masih kurang juga uangnya? Tunggu saat klub-klub Eropa itu berkunjung ke negara Anda. Anda beli tiket saja untuk masuk stadion di hari pertandingan.Asia yang pasif. Eits, nanti dulu. Gelontoran uang yang mengalir ke kas klub-klub Eropa juga menunjukkan Asia yang aktif dan (melihat angka-angkanya yang sangat melimpah) Asia yang menggempur.Lupakan teori bahwa mengontrak pemain Asia itu untuk jualan jersey. Itu sudah kuno. Itu terlalu recehan.

Liga Spanyol Pekan Ini - Masihkah Barca, Madrid, dan Atletico 'Kompak' di Puncak?


Sampai dengan 23 laga, Barca, Madrid, dan Atletico sama-sama telah mengoleksi 57 poin. Yang membedakan posisi ketiganya saat ini hanyalah rekor pertemuan di antaranya kemudian juga selisih gol.

Akhir pekan ini pemuncak klasemen Barca akan menjamu tim posisi dua dari dasar klasemen, Rayo Vallecano. Di atas kertas Barca akan mampu kembali mengatasi lawannya tersebut--Opta mencatat Barca berhasil memenangi enam pertemuan terakhirnya dengan Rayo dengan rata-rata 4,3 gol per pertandingan.

Namun demikian, Barca mesti mewaspadai faktor konsistensi yang tampak belum bisa diperlihatkan Lionel Messi cs setelah meraih tiga kemenangan, dua hasil imbang, dan satu kekalahan dalam enam pertandingannya di La Liga pada awal tahun 2014.

Sementara itu Madrid akan melawat ke Coliseum Alfonso Perez markas Getafe, tim yang kini menempati peringkat 13 dan satu-satunya tim di La Liga yang belum meraih satu kemenangan pun di tahun 2014--dua kemenangan dan empat kekalahan.

Dalam empat lawatan terakhirnya ke markas Getafe, Madrid berhasil meraih kemenangan kendatipun dalam lawatan terakhirnya sebelum ini justru kalah 1-2. Maka walaupun bakal diunggulkan, El Real jelas tetap harus amat waspada.

Sedangkan di Vicente Calderon, Atletico akan berusaha bangkit dari serangkaian hasil tidak oke ketika menjamu tim peringkat 18 Real Valladolid.

Sempat memuncaki klasemen dan digadang-gadang akan mampu terus memberikan ujian berat buat Barca dan Madrid, yang secara tradisional mendominasi La Liga, Atletico belakangan malah seperti kehabisan bensin. Dalam enam laga La Liga di tahun 2014 ini Atletico pun gagal meraih hasil konsisten dengan tiga kemenangan, dua hasil seri, dan satu kekalahan.Selain itu Atletico juga mesti segera memberi respons setelah tersingkir dari Copa del Rey akibat menelan dua kekalahan dari Real Madrid. Ditambah dengan kekalahan atas Almeria di La Liga, maka Atletico pun kini sudah menelan tiga kekalahan secara beruntun di seluruh kompetisi.Apapun, di atas kertas Barca, Madrid, dan Atletico dipredksi tetap akan mampu mengatasi lawannya masing-masing. Tetapi menilik performa, ditambah dengan kejutan-kejutan yang acapkali hadir dalam sepakbola, bukan tidak mungkin Barca, Madrid, dan Atletico tidak lagi "kompak" setelah jornada 24 tuntas.

Jelang Piala FA - Statistik Pertemuan Unggulkan Arsenal atas Liverpool


Stadion Emirates, Minggu (16/2/2014) malam WIB, akan menjadi panggung pertarungan Arsenal dan Liverpool tersebut. Arsenal sampai ke babak ini setelah melewati Tottenham Hotspur (2-0) dan Coventry City (4-0). Sedangkan Liverpool tiba di babak ini usai menyingkirkan Oldham Athletic (2-0) dan Bournemouth (2-0).

Berikut data dan fakta untuk duel Arsenal dan Liverpool seperti dicatat Opta.

- Arsenal dan Liverpool sudah berhadapan di Piala FA di 12 musim sebelumnya. The Gunners berhasil tujuh kali melewati hadangan Liverpool (termasuk memenangi dua partai final), sedangkan The Reds memenangi satu duel di final dan empat kali mengatasi Arsenal.

- Sementara dari delapan pertemuan terakhirnya dengan Liverpool di Piala FA, Arsenal cuma menelan satu kali kekalahan, yang mana terjadi di final 2001.

- Arsenal belum kebobolan satu gol pun di ajang Piala FA musim ini dan mencatat tiga clean sheet dalam lima laga terakhirnya di Piala FA.

- Arsenal baru sekali kalah dalam 36 laga kandang terakhirnya di Piala FA, yakni melawan Blackburn musim lalu. Sebelum itu kekalahan kandang Arsenal terjadi pada tahun 1997 saat menghadapi Leeds.

- Liverpool cuma mampu memenangi dua dari enam laga tandang terakhirnya di Piala FA. Sisanya berakhir dengan tiga kekalahan dan satu kali berimbang.- Santi Cazorla sudah membuat gol dalam dua pertandingan Arsenal di Piala FA musim ini.- Dari delapan penampilan terakhirnya di babak kelima Piala FA, Liverpool sudah enam kali berhasil lolos, walaupun dari empat kesempatan terakhir mereka sudah gagal dua kali.- Arsenal sudah membuat 11 clean sheet dalam 12 laga kompetitif terakhirnya di Emirates.- Liverpool tidak menelan kekalahan dalam sembilan laga kompetitif terakhirnya, dengan meraih tujuh kemenangan dan dua hasil imbang.- Daniel Sturridge telah mencetak gol dalam delapan penampilan beruntun buat Liverpool (sembilan gol).- Sturridge sudah mencetak gol dalam 17 dari 21 penampilan kompetitifnya buat Liverpool pada musim 2013-14.

Ada Gervinho dan Drogba di Balik Kepindahan Hazard ke Chelsea

Roma - Sejak diboyong Chelsea pada musim panas 2012 lalu, Eden Hazard musim ini tengah tampil bagus-bagusnya buat 'Si Biru'. Nah, kepindahan Hazard ke Chelsea itu ternyata tidak lepas dari peran serta mantan pemain Arsenal Gervinho dan kompatriotnya, Didier Drogba.Hal itu terungkap dari sebuah buku yang baru saja dirilis oleh Rudi Garcia, pelatih klub Italia AS Roma yang juga sempat menangani Lille di mana Hazard pernah Gervinho sama-sama pernah merumput--Garcia melatih Lille periode 2008–2013, Hazard main di Lille periode 2007–2012 sedangkan Gervinho 2009–2011.Diungkap Garcia, kepindahan Hazard ke Chelsea diawali, secara non-formal, ketika Gervinho melakukan sebuah percakapan telepon dengan rekannya di tim nasional Pantai Gading, Drogba, yang ketika itu masih bermain untuk Chelsea."Oper teleponnya ke dia (Hazard)," kata Drogba ke Gervinho ketika itu seperti dilansir Mirror. "Di sini ada seseorang yang ingin bicara dengannya."Setelah Gervinho menyerahkan teleponnya ke Hazard, orang yang disebut-sebut ingin berbicara dengan pemain internasional Belgia yang membantu Lille menjuarai Ligue 1 musim 2010–11 itu ternyata adalah pemilik Chelsea Roman Abramovich. Konon, dalam obrolan telepon tersebut Abramovich berjanji melipattigakan gaji Hazard jika ia bersedia pindah ke Stamford Bridge.Hazard pada prosesnya memang masih bertahan di Lille untuk satu tahun lagi, tetapi rupanya ajak Abramovich sudah sedemikian mengena di hatinya. Ia pun menampik tawaran bergabung dari sejumlah klub top Eropa, termasuk Manchester United dan Manchester City, dan akhirnya berlabuh di London pada musim panas 2012.Gervinho sendiri juga sempat mencicipi Premier League bersama Arsenal, bahkan satu tahun lebih dulu dari Hazard. Namun, ia gagal memperlihatkan performa terbaiknya di Inggris dan sejak musim panas lalu hijrah ke AS Roma di mana dirinya melakukan reuni dengan Garcia.Sementara Drogba, yang seperti melakoni peran asisten Abramovich dalam kisah ini, meninggalkan Stamford Bridge pada musim panas 2012. Ia kini bermain untuk klub Turki Galatasaray.

City Masih Lebih Dominan atas Chelsea


Keduanya akan bertemu ketiga kalinya di musim ini, di mana Etihad Stadium bakal jadi arena duel pada Minggu (16/2/2014) dinihari WIB. Chelsea sukses memenangi dua pertemuan sebelumnya yang digelar di Liga Inggris, namun City tak pernah kalah dalam tiga pertemuan terakhir kontra sang rival di Piala FA.

Berikut data dan fakta untuk duel City dan Chelsea seperti dicatat Opta.

- Lima final FA Cup terakhir selalu menampilkan salah satu antara kedua tim ini, di mana Chelsea memenangi seluruh tiga finalnya sementara City menang satu kali dan kalah sekali (kontra Wigan Athletic musim lalu).

- Kedua tim ini sebelumnya hanya bertemu empat kali di Piala FA, di mana City kalah pada pertemuan pertama di 1915 tapi memenangi tiga laga berikutnya, termasuk semifinal musim lalu 2-1.

- The Blues hanya berhasil mencetak total dua gol dalam empat pertemuannya dengan The Citizens di Piala FA.

- City hanya kalah satu kali dari sembilan partai Piala FA terakhirnya (final melawan Wigan musim lalu).

- The Blues hanya kalah satu kali dari 32 pertandingan Piala FA terakhirnya, memenangan 25 laga dan imbang enam kali.- City cuma kalah satu kali di kandang dalam ajang Piala FA dari 11 laga terakhir, menang sembilan kali dan imbang sekali.- Chelsea sudah tak kebobolan dalam tujuh pertandingan Piala FA terakhir.- Anak-anak Manchester sudah mencetak 10 gol dalam tiga pertandingan Piala FA musim ini, di mana Sergio Aguero mencatatkan empat gol dan Alvaro Negredo tiga gol.- Chelsea sudah dua kali mengalahkan City di Liga Inggris musim ini, menjadi tim pertama yang mencatatkan double kemenangan atas City setelah Everton pada musim 2010/2011.- Chelsea adalah satu-satunya tim yang bisa menang di Etihad Stadium musim ini, menang 1-0 pada laga Liga Inggris belum lama ini.- Terakhir kali City kalah dua kali di kandang dalam satu bulan di laga kompetitif adlaah pada Januari 2012.- City telah gagal memenangi dua laga terakhirnya, mereka sudah tidak pernah menjalani tiga laga berturut-turut di semua kompetisi tanpa kemenangan selama lebih dari setahun (9 Februari 2013).- Chelsea tidak terkalahkan dalam 12 laga kompetitif terakhir, menang sembilan kali dan imbang tiga kali.

Les Bleus Lupakan Mimpi Buruk di Piala Dunia 2010

Paris - Prancis melenggang ke Piala Dunia 2014 lewat laga playoff. Namun hal itu tak mengurangi optimisme pelatih Didier Deschamps untuk menuai hasil maksimal.Setelah mengatasi Ukraina dengan skor agregat 3-2 dan lolos ke Brasil, Les Bleus—julukan timnas Prancis—terundi masuk grup yang relatif ringan. Mereka berada di Grup E bersama Honduras, Ekuador dan Swiss.Keuntungan itu tak mengurangi keraguan publik. Selain lolos dengan susah payah via jalur playoff, "mimpi buruk" di Piala Dunia 2010 juga merupakan sebuah alasan. Di Afrika Selatan, Samir Nasri dkk. jadi juru kunci grup, tidak menang, hanya mencetak sebiji gol. Tim tidak harmonis, sejumlah pemain mengancam memboikot pelatih, Nasri terlibat percekcokan dengan wartawan.Namun Deschamps yakin bisa membawa anak asuhnya meriah hasil yang lebih baik dibandingkan torehan empat tahun lalu. Malah, dia ingin mencetak sejarah untuk Prancis."Prancis harus mempunyai ambisi untuk bisa sekompetitif mungkin. Kami menuju Brasil dengan keinginan melaju sejauh mungkin," kata Deschamps di situs resmi FIFA."Tak seorang pun bisa menghapus apa yang terjadi pada 2010. Itu tetap akan menjadi sebagian kisah. Tapi kami tak menatap ke belakang. Hal yang penting adalah Piala Dunia dan Piala Eropa 2016 yang akan dilaksanakan di Prancis," jelas pelatih berusia 45 tahun itu."Yang pertama dan utama adalah tentang kolektivitas. Kebugaran bisa menjadi faktor penting. Tapi hal yang paling penting adalah spirit persatuan dan mental juara."Kami akan bersama-sama dalam beberapa pekan sejak hari pertama persiapan hingga turnamen selesai. Skuat yang dinamis dan mental pemain akan sangat penting. Itu bukan tentang kemenangan semata tapi saya pikir tak ada hasil tanpa itu semua," tutur kapten Prancis saat menjuarai Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000 itu.

Clarence Seedorf: Jalan AC Milan & Mario Balotelli Masih Panjang


Clarence Seedorf menegaskan AC Milan harus melalui jalan panjang sebelum kembali memuncaki sepakbola dunia, demikian juga dengan Mario Balotelli. 

I Rossoneri terpuruk di urutan 11 tabel Serie A - 31 poin di belakang pemuncak Juventus - jelang pertandingan Jumat melawan Bologna setelah kalah 3-1 dari Napoli akhir pekan kemarin, pertandingan yang membuat Balotelli menitikan air mata setelah ditarik keluar di babak kedua. 

Mantan penyerang Manchester City mencetak sembilan gol dari 17 penampilan Serie A musim ini, menurun dari pencapaiannya tahun lalu ketika Super Mario menorehkan 12 dari 13 penampilan, dan Seedorf mengatakan Balotelli masih harus bekerja keras untuk menjadi striker kelas dunia. 

“Mario adalah bakat besar dan kami harap dia dapat ‘meledak’ dan menjadi juara,” kata Seedorf kepada reporter. 

“Saya yakin cepat atau lambat dia akan melakukannya karena dia memiliki keinginan yang besar. Tangisnya di Napoli adalah pelepasan emosi - dia manusia biasa.” 

Mantan pemain Botafogo juga menolak mengkritik pendahulunya, Massimiliano Allegri, meski mengatakan dirinya mengambil alih tim yang butuh pembenahan besar di semua sisi. 

“Akan butuh waktu untuk memulihkan semuanya karena kami punya banyak pekerjaan yang harus dilakukan,” lanjut pria asal Belanda. 

“Saya tahu apa yang harus kami lakukan dan kritik terbesar saat ini adalah kami sendiri. Ada keinginan besar untuk membawa Milan kembali ke tempat di mana mereka seharusnya, meski kami tahu ini akan butuh waktu. Mengkritik pelatih sebelumnya bukan hal yang menarik, tapi tim harus memperbaiki semuanya,” tandas Seedorf. 

Fabricio Coloccini Akan Habiskan Kontraknya Di Newcastle United



Bek Fabricio Coloccini disebut akan menghabiskan kontraknya dengan Newcastle United, demikian berita seperti dikutip dari Evening Chronicle.

Colloccini, 32, sebelum ini dikaitkan dengan kepindahan ke San Lorenzo, bahkan jauh-jauh hari sebelum bursa transfer Januari dibuka.

Adapun kini, pria asal Argentina itu dikabarkan akan membela The Magpies untuk dua tahun ke depan, sekaligus menghabiskan kontraknya.

Coloccini sendiri mendarat ke Newcastle pada 2008 lalu dari Deportivo La Coruna, dan telah tampil di 200 laga di semua kompetisi untuk tim penghuni St James’ Park tersebut.

Pedro Rodriguez Masuk Radar Manchester United



Klub Liga Primer Inggris, Manchester United, kini dikaitkan dengan kepindahan winger Barcelona Pedro Rodriguez.

Menurut AS, pemandu bakat United yang berdomisili di Spanyol telah diutus untuk mengamati penampilan sang pemain pada bulan ini.

Adapun, manajer United David Moyes kiranya akan mencari pemain baru yang bisa bermain melebar pada musim panas nanti, dan salah satu targetnya diyakini adalah pedro.

Akan tetapi, pemuda berusia 26 tahun itu sebelum ini telah menyatakan kesetiaannya untuk bertahan di Camp Nou, dengan berkata: “Satu-satunya ide saya adalah melanjutkan karir dengan Barcelona,” ujarnya.

“Saya bahagia berada di klub ini, saya santai saja, dan satu-satunya tekad saya adalah bertahan.”

Diego Perotti Dukung Federico Fazio Ke Barcelona

Diego Perotti meyakini bahwa mantan rekan setimnya di Sevilla Federico Fazio cukup bagus untuk bermain di Barcelona.

Perotti sendiri pergi meninggalkan Ramon Sanchez Pizjuan di bursa transfer Januari kemarin dengan merapat ke Boca Juniors secara pinjaman hingga akhir musim nanti.

Adapun dalam sebuah keterangan kepada salah satu radio di negaranya, Perotti menilai bahwa Fazio memiliki kemampuan untuk bermain di Camp Nou.

“Fazio akan menjadi yang terbaik di Eropa,” ujar Perotti. “Dengan tinggi badannya dan juga permainannya, maka ia akan menjadi yang terbaik.

“Dia memiliki segala yang dibutuhkan untuk berkarir di Barca. Dan jika dia membuat pilihan itu, saya akan mendukungnya.”

Samir Nasri Sesali Insiden Euro 2012


Gelandang Manchester City Samir Nasri mengakui bahwa dirinya menyesali insiden tentang dirinya dengan media pada Euro 2012 silam.

Seperti yang diketahui, Nasri bereaksi dengan marah ketika ditanya media terkait keterpurukan tim nasional Prancis, hal itu juga membuat federasi sepakbola Prancis memberinya sanksi larangan bermain selama tiga pertandingan.

"Ketika Anda masih muda, Anda tidak ceroboh. Anda berpikir, Anda mengetahu segalanya," ungkap Nasri kepada RMC.

"Karena kami tahu apa yang kami lakukan dan itu tidak tepat. Ini bukan tentang 23 pemain yang dipilih, ini untuk 65 juta orang [di Prancis].

"Saya menyesali kejadian di Euro 2012. Bukan begitu saya dibesarkan. Saya mempermalukan nama saya dan orang tua saya. Saya tidak menghargai jersey negara.

"Jadi tentu saja saya menyesal. Saya akan segera berusia 27 tahun. Saya pikir saya membuang cukup banyak waktu dan saya harus mencapai potensi saya."

Tom Cleverley Antusias Latihan Di Dubai


Gelandang Manchester United Tom Cleverley mengaku senang setelah pihak klub memutuskan untuk melakukan pemusatan latihan di Dubai di tengah cuaca dingin di Inggris.

Cleverley dan para penggawa United lainnya dibawa manajer David Moyes ke Uni Emirat Arab yang bersuhu lebih hangat. Hal tersebut dilakukan guna membidik posisi tinggi di akhir musim setelah hanya mampu menempati urutan ketujuh di Liga Primer untuk sementara.

“Kita akan pergi sekarang dan memiliki lima hari latihan di cuaca yang lebih hangat, yang mana akan membuat kita bersatu dan mudah-mudahan bisa membantu performa kami,” ujar Cleverley kepada laman resmi klub.

“Latihan di suhu hangat sangat bagus untuk kebugaran sebagaimana juga buat kekompakan tim dan semangat tim, itulah yang Anda dapatkan ketika bersama-sama.

“Kami melakukannya tahun lalu dan hal itu benar-benar membantu kami - mudah-mudahan ini akan memiliki efek yang sama kali ini.”

Gary Cahill Sesalkan Hasil Imbang Chelsea



Bek Chelsea Gary Cahill menyesalkan kegagalan timnya meraih poin penuh ketika menghadapi West Bromwich Albion.

Seperti yang diketahui, gol telat Victor Anichebe membuat skuat asuhan Jose Mourinho harus puas berbagi angka setelah laga berakhir dengan skor 1-1.

"Jika kami mencetak gol kedua, semuanya berakhir," ujar Cahill. "Kami mengontrol pertandingan dalam waktu yang lama, tetapi kami hanya membutuhkan gol kedua tersebut.

"Jika Anda mencetak gol kedua, itu akan selesai tetapi di 15 menit terakhir semuanya terbuka dan mereka mencetak gol.

"Ini adalah salah satu pertandingan seperti itu. West Brom memakai tiga pemain, kemudian sesuatu dapat terjadi. Umpan silang, tandukan dan Anda mendapatkan satu angka. Itu yang terjadi."