Pencarian Data

Friday, February 21, 2014

FA The Future Game: Kurikulum Masa Depan Sepakbola Inggris


Selebihnya tak ada prestasi berarti dari negeri Elizabeth ini. Mentok hanya sampai perempatfinal. Di Piala Eropa, mentok sampai semifinal, lagi-lagi itu itu pun saat mereka jadi tuan rumah pada 1996.

Inilah nasib The Three Lions. Punya liga termasyhur dan ditonton banyak orang, namun tak berdaya pada tataran internasional. Ya, mereka sudah tertinggal jauh dari banyak negara Eropa Daratan.

Yang Terjadi di Jerman

Syahdan di tahun 2001, saat sudah mulai sadar tentang pentingnya regenerasi, Jerman melakukan pembaharuan dalam kurikulum pembinaan sepakbolanya.

Semua dipicu oleh kegagalan total Jerman di Piala Eropa 2000. Tergabung di Grup A bersama Inggris, Portugal dan Rumania, Jerman hanya meraih sebiji poin dari pertandingan melawan Rumania. Gagal total. Dan memalukan.

Jerman merasa ada yang salah dengan pembinaan sepakbola. Maka mulai 2001, federasi sepakbola Jerman langsung melakukan pembenahan total. Mereka memulainya dengan menyusun kurikulum pembinaan pemain usia dini dan skema kompetisi untuk segmentasi pemain-pemain belia.

Jerman menuangkan program-program perombakan kurikulum pembinaan usia dini tersebut ke dalam sebuah buku panduan. Tak hanya itu, Jerman sengaja menggelontorkan uang tak kurang dari 20 juta euro untuk urusan ini. Talenta muda Jerman difasilitasi dengan 366 training center yang sangat lengkap nan modern.

Hasilnya, Jerman bisa dengan cepat bangkit dari keterpurukannya. Piala Dunia 2006, selang 5 tahun dari rilis kurikulum dan pembinaan gaya baru ini, mereka sudah bisa memikat dunia saat menjadi tuan rumah Piala Dunia. Pelatih Jerman, Juergen Klinsmann, berhasil memunculkan nama-nama baru seperti Lukas Podolski, Phillip Lahm, Per Mertesacker dan Bastian Schweinsteiger. Semuanya masih berusia di bawah 22 tahun. Podolski bahkan didapuk sebagai Pemain Muda Terbaik.

Dan sejak itu, Jerman tak habis-habisnya memunculkan nama baru. Belum habis generasi Podolski, Scweinsteiger, dkk, sudah muncul nama-nama generasi berikutnya, dari Mesut Oezil, Manuel Neuer, Thomas Muller, Toni Kroos sampai Jerome Boateng. Oezil baru saja muncul, sudah muncul nama Mario Goetze.

Dan Inggris? Jelas terlambat. Setelah mereka dikalahkan Jerman pada fase 16 besar di Piala Dunia 2010, mereka baru sadar. Sadar untuk ikut juga merombak kurikulum pembinaan usia muda mereka. Atas refleksi panjang itulah, kemudian FA meluncurkan buku panduan pembinaan usia dini di Negeri Lady Diana itu. Mereka menamainya, "The Future Game".

The Future Game: Pedoman Penyeragaman

"Kita harus memastikan bahwa kita sedang memproduksi pemain Timnas Inggris yang mempunyai kemampuan teknis yang sama layaknya banyak negara besar."

Kurang lebih begitulah mukadimah buku pedoman tersebut. Itu pulalah target yang hendak dicapai dari buku pedoman tersebut. Inggris sudah mulai gerah dengan minimnya prestasi Tiga Singa. Ya, Inggris yang menggagas sepakbola, Inggris yang menyebarkan sepakbola, namun Inggris juga yang menjadi bulan-bulanan sepakbola saat berlaga di level internasional.

Oleh karenanya, Inggris menyusun sebuah ringkasan panduan pembinaan usia dini. Mulai dari kelompok usia 8-11 tahun, 12-16 tahun, bahkan sampai kelompok usia 17-21 tahun. Layaknya Undang-Undang Dasar sebuah negara, buku tersebut harus benar-benar diamalkan oleh semua elemen sepakbola di tanah Britania.

Pada kelompok umur 8-11 tahun, anak-anak dianjurkan untuk memainkan bola-bola pendek lewat permainan 3 vs 3 di lapangan 25 x 15 yard [1 yard = 0,91 meter]. Permainan ini tidak seperti permainan "kucing-kucingan" di Indonesia. Permainan ini menuntut anak-anak belajar mengorganisasi pertahanan serta belajar tata cara membongkar pertahanan dengan mengandalkan bola-bola pendek. Ini jelas ambisi besar karena visinya sangat kontradiktif dengan apa yang biasa kita lihat sehari-hari di Liga Inggris yang khas khas dengan permainan bola panjang.

Inikah sebuah pertanda bahwa Inggris hendak meninggalkan gaya bermain kick and rush yang sudah mulai usang termakan zaman itu?


[Grafik menu latihan kelompok usia 8-11 tahun]

Di kelompok umur selanjutnya, yaitu kelompok umur 12-16 tahun, menu latihan yang diberikan akan semakin detail. Banyak poin yang harus dituntaskan oleh para pemain akademi. Mereka dituntut untuk memainkan bola di lapangan 70 x 30 yard yang berisi 16 orang. Memainkan permainan 8 vs 8. Tim dibagi menjadi 3 pemain belakang, 3 pemain tengah, 1 penyerang, dan 1 kiper tentunya.

Lewat game ini, pemain dituntut untuk bisa memanfaatkan ruang kosong yang memungkinkan untuk dieksploitasi. Aturannya adalah, jika bola sudah memasuki zona tengah, maka dalam waktu kurang dari 10 detik tim tersebut harus sudah melakukan tembakan ke arah gawang. Oleh karenanya, lewat permainan ini pemain tengah dilatih untuk lihai mencari momentum melepaskan umpan untuk memasuki sepertiga akhir lapangan lawan.

Selain itu, tiga pemain bertahan juga diharuskan dapat membantu penyerangan saat bola berhasil dikuasai oleh kawan. Pemain belakang tak boleh melakukan umpan-umpan di daerahnya sendiri lebih dari lima kali. Oleh karena itu, dalam permainan ini seorang penyerang juga harus bisa melakukan peran sebagai pemain tengah. Para penyerang harus mahir turun ke bawah, mengisi celah yang ditinggalkan para pemain tengah yang sedang turun menjemput bola dari pemain belakang.

Dari situ kita tahu, Inggris tak lagi seperti dulu. Mencoba tidak seperti dulu. Inggris tak ingin lagi memaksimalkan serangan-serangan lewat sisi kiri ataupun kanan lapangan. Kini, sedari muda anak-anak Inggris sudah diajari tentang cara menyerang lewat tengah, seperti kebanyakan tim-tim Eropa daratan lainnya.


[Grafik menu latihan kelompok usia 12-16 tahun]

Pada jenjang selanjutnya, jenjang usia 17-21 tahun, barulah para pemain akademi ini diperbolehkan memainkan sepakbola di lapangan yang sesungguhnya. Akan tetapi hanya dimainkan oleh 8 lawan 8 orang, termasuk penjaga gawang.

Dalam jenjang usia ini, para pemain ditekankan untuk mengamalkan pelajaran-pelajaran yang mereka dapatkan sebelumnya. Mengorganisasi pertahanan dan juga menyerang lewat serangan balik adalah hal-hal yang ditekankan pada kurikulum jenjang usia 17-21 tahun.


[Grafik menu latihan kelompok usia 17-21 tahun]

Latihan dimulai dengan pelatih yang mengoper bola pada para pemain yang berada di dalamcones seluas 20 x 28 yard. Kotak tersebut diisi 5 orang dari masing-masing tim. Menyisakan satu orang penyerang dan satu orang pemain bertahan di luar kotak.

Dalam latihan ini, para pemain yang berada pada kotak imajiner tersebut hanya boleh melakukan 5-6 kali passing, sebelum memutuskan untuk mengirimkan umpan ke depan atau justru mengembalikan bola ke bek.

Hal ini melatih mereka untuk tak terburu-buru menyerang jikalau memang belum siap benar. Jenjang ini adalah praktek dari jenjang sebelumnya, terutama menyoal menentukan momentum untuk menyerang dan merengsak ke sepertiga akhir lapangan. Selain itu, penyerang dalam program ini, diharuskan melepaskan tembakan sebelum bola berjarak 20 yard dari gawang.

Ya, di jenjang usia lebih dewasa, Inggris mulai menyajikan menu latihan yang jauh dari khasanah sepakbolanya: kick and rush. Inggris yang biasanya selalu mengandalkan umpan panjang dari daerah pertahan menuju blok penyerangan lewat kiri atau kanan lapangan, kini hendak mencoba variasi serangan lewat tengah. Memaksimalkan kreativitas pemain tengah. Inggris yang biasanya mengandalkan crossing kini hendak memaksimalkan seni menyerang lewat trough-ball.Pun dengan adanya pedoman ini juga akan melunturkan prototype penyerang Inggris yang biasanya merupakan tombak kembar yang ada di muka gawang lawan. Seperti yang kita tahu, Inggris sudah terlanjur dikenal sebagai tim yang memiliki duet stiker yang tidak pernah berdiri berjauhan dan sangat klinis dalam mengkonversi peluang menjadi gol.Alhasil, Inggirs mirip Barcelona dengan tiki-taka-nya, bukan? Mirip Belanda dengantotalfootball-nya, bukan?Ya, pedoman tersebut merupakan antiklimaks persepakbolaan Inggris. Inggris yang selalu mengagung-agungkan supremasi kick and rush kini mulai sadar bahwa pakem main bola mereka sudah tergerus zaman. Buku pedoman tersebut secara tidak langsung merupakan bukti nyata bahwa Inggris sedang menurunkan egonya.Sadar atau tidak, mereka sedang mengadakan penyeragaman pola permainan sejak usia muda. Maka jangan heran jika esok tak ada lagi kick and rush, tak ada lagi Stoke Way, tak ada lagi Liverpool Way, tak ada lagi Arsenal Way. Semua akan menjadi sama. Semua akan seragam. [Baca juga: Gaya Bermain Tim Sepakbola: Antara Idealisme, Realitas dan Mitos]Developing football for everyonePerombakan Inggris tak hanya sampai di situ. Senada degan apa yang dilakukan Jerman, Inggris juga menyiapkan anggaran tersendiri untuk membangun fasilitas latihan 1.000 lapangan latihan akan dibangun dengan fasilitas yang sangat lengkap dan modern.Walaupun perekonomian Inggris belum sepenuhnya pulih, FA sudah menggandeng banyak sponsor untuk hal ini. Maklum saja, pembangunan infrastruktur tersebut direncanakan menghabiskan dana sebesar 253 juta poundsterling, atau kira-kira Rp 4,9 triliun!Untuk soal ini memang Inggris-lah jagonya. Sponsor macam Mc Donalds, Vauxhall, Tesco, ataupun Carlesberg berhasil mereka gaet untuk membantu pendanaan pembangunan pusat latihan.Dengan membredel semua yang usang pada sepakbola dalam negerinya, FA tentu menginginkan sebuah kemajuan prestasi tim nasionalnya. Alhasil, hari ini kita tinggal menyaksikan emplementasi silabus pembinaan usia dini tersebut.Dan tahun ini, genap sudah 3 tahun program pengembangan itu dijalankan. Sebentar lagi Piala Dunia bergulir, jelas Inggris akan ambil bagian. Kita tunggu saja, apakah program pengembangan ini akan menuai hasil lebih cepat dari Jerman? Ataukah Inggris masih akan tetap mengambil perannya sebagai negara "besar" yang menjadi bulan-bulanan? Juni-Juli nanti jawabannya.

Berdebat dengan Oezil, Flamini Bantah Ada Masalah

London - Mathieu Flamini dan Mesut Oezil terlihat berdebat saat Arsenal dikalahkan Bayern Munich di laga leg I babak 16 Besar Liga Champions. Namun, Flamini mengaku tak ada masalah dengan Oezil.Insiden itu terjadi di tengah-tengah pertandingan setelah serangan yang dibangun Bayern gagal. Dalam tayangan televisi, Oezil menghardik Flamini yang lantas balik mendatangi pemain Jerman itu dan tampak memberi penjelasan.Adegan ini kemudian ramai dibicarakan di media sosial sehingga memunculkan spekulasi adanya pertengkaran di antara dua pemain tersebut. Tapi Flamini membantah semua dugaan itu."Ketika Anda seorang jurnalis atau Anda seorang fans dan melihatnya dari luar, sulit untuk menafsirkannya," ungkap Flamini kepada situs resmi Arsenal. "Tapi Mesut adalah salah satu rekan setim yang paling dekat denganku kok dan kami ada di lapangan.""Itu bukan soal berdebat tapi hanya sebatas berkomunikasi. Mesut adalah seorang pemenang, aku juga seorang pemenang, kami berdua berjuang karena kami ingin memberi yang terbaik untuk im dan memastikan kami bertahan dengan benar.""Itu hanya komunikasi, tapi pada akhirnya itu membuktikan kepada setiap orang bahwa kami sangat ingin menang dan kami adalah pemenang. Ini penting, karena Anda menginginkan sebuah tim dengan karakter, bukan tim yang tidak bereaksi," imbuh gelandang Prancis itu.Sorotan bukan ditujukan kepada perdebatan itu semata namun juga performa Oezil yang menurun drastis pasca pergantian tahun. Flamini langsung membela rekan setimnya itu."Semua orang di belakang dia, seperti yang ku bilang sebelumnya, dia adalah salah satu rekanku setim yang paling dekat denganku. Semua orang senang memiliki dia karena dia pemain berbakat dan aku tidak mengerti mengapa orang-orang terlalu keras terhadap dia," sungut Flamini.

Barca Disebut 'Buruk' oleh Mourinho, Martino Enggan Komentar

Barcelona - Gerardo Martino sepertinya tak tertarik untuk beradu argumen dengan Jose Mourinho. Menyusul komentar negatif yang dilontarkan mantan pelatih Real Madrid itu soal Barcelona.Beberapa hari lalu, pria yang kini menangani Chelsea itu mengomentari duel antara Manchester City dengan Barca di Liga Champions.Mourinho lantas mengatakan bahwa City berpeluang menang karena Barca yang sekarang adalah yang terburuk dalam bertahun-tahun.Komentar miring itu tidak terbukti. Setidaknya, sampai saat ini, Los Cules toh sukses mengalahkan City di 2-0 di Etihad, lolos ke final Copa del Rey dan masih memuncaki klasemen La Liga.Namun, komentar Mourinho itu sudah ditanggapi oleh gelandang Barcelona Cesc Fabregas. Fabregas balik membalas Mourinho dengan menyuruh dia mengurusi Chelsea saja bukannya tim lain."Saya tidak membaca berita itu, saya tidak memiliki pendapat tentang itu," ucap pelatih Barca ini seperti dikutip AS."Saya fokus pada sepakbola dan tim saya. Saya tidak tertarik dengan hal-hal di luar klub baik itu positif atau yang negatif," sambung Martino.

Guardiola: Bayern Belum Mencapai Performa Terbaik

Munich - Di level domestik dan Eropa, Bayern Munich memperlihatkan penampilan yang begitu impresif. Namun sang pelatih Josep Guardiola mengungkapkan bahwa Bayern masih bisa meningkat lebih jauh lagi.Die Roten nyaman di pucuk klasemen Bundesliga dengan keunggulan 16 angka dari rival terdekatnya, Bayer Leverkusen. Di DFB-Pokal, tim Bavaria ini sukses menembus babak semifinal.Sementara tu di Liga Champions, Bayern memiliki kans besar untuk melangkah ke perempatfinal. Menyusul kemenangan 2-0 yang dipetik di laga leg I babak 16 Besar di kandang Arsenal.Kendati sudah sip namun Guardiola yakin bahwa Philipp Lahm dkk. masih memiliki ruang untuk meningkatkan sejumlah aspek. "Kami masih bisa meningkatkan level kami lebih tinggi lagi," ungkap Guardiola di situs resmi klub."Setiap hari para pemain memahami sedikit lebih banyak tentang mekanismen dan ide-ide kami. Kami membicarakan tentang apa yang kami lakukan dengan baik dan tidak begitu baik.""Untuk itu, wajar bahwa jika pemahaman kami semakin berkembang," imbuh mantan pelatih Barcelona itu.

Schalke-Mainz Berakhir Seri Tanpa Gol

Gelsekirchen - Schalke harus puas memperoleh satu angka dalam laga kandangnya. Menjamu Mainz di Veltins Arena, Sabtu (22/2/2014) dinihari WIB, Schalke ditahan imbang tanpa gol alias 0-0.Bermain di kandang lawan, Mainz justru hampir membuka skor saat petandingan baru berjalan 10 menit. Stefan Bell meneruskan bola sepak pojok dengan sepakan yang menyamping tipis.Serangan balasan Schalke hampir membuahkan hasil. Jefferson Farfan mlepaskan tembakan dari sudut sempit meskipun masih melenceng, hasil dari umpan Maximilian Meyer.Di babak kedua, Schalke melewatkan peluang emas di menit ke-52. Kiper Mainz Loris Kairus melakukan kesalahan fatal saat pengamamanannya terhadap bola justru jatuh di jalur Meyer kendati upayanya bisa dipatahkan.Bell dari kotak penalti sekaligus posisi tidak terkawal, namun sepakannya justru melambung. Kevin-Prince Boateng menoba peruntungannya namun sundulan dia masih melebar.Dengan hasil ini, Schalke tetap di peringkat keempat dengan koleksi 41 poin hasil 22 pertandingan sekaligus gagal menggeser Borussia Dortmund yang ada di atasnya. Sedangkan Mainz naik ke peringkat tujuh dengan 34 poin.Susunan PemainSCHALKE: Faehrmann, Hoogland, Santana, Kolasinac, Matip, Meyer (Draxler 65), Goretzka (Obasi 81), Boateng, Farfan, Neustaedter, Huntelaar (Szalai 88)MAINZ: Karius, Pospech, Noveski, Bel, Diaz, Geis, Moritz, Koo (Chuopo-Moting 74), Soto, Okazaki (Parker 74), Mueller (Saller 83)

Rooney Resmi Perpanjang Kontrak di MU

Manchester - Kesepakatan kontrak baru antara Wayne Rooney dengan Manchester United akhirnya terjalin. Rooney telah resmi membubuhkan tanda tangannya dalam kontrak yang akan berakhir sampai 2019.Pesepakbola berusia 28 tahun ini sejatinya tinggal memiliki sisa kontrak selama 1,5 tahun. Hal itu membuat Rooney kencang disebut-sebut menjadi incaran klub-klub top seperti di antaranya Chelsea dan Real Madrid.Di kontrak baru ini, Rooney diyakini akan menerima kenaikan bayaran menjadi 300 ribu poundsterling per pekannya atau setara dengan Rp 5,8 miliar. Selain itu, Rooney juga akan didapuk menjadi duta klub setelah gantung sepatu nanti."Saya memang ingin bertahan di United," ujar penyerang internasional Inggris itu yang dilansir Reuters. "Saya yakin bahwa ini adalah awal dari bab sukses yang lain dalam sejarah Manchester United."Manajer MU David Moyes merasa lega setelah kontrak baru disepakati Rooney. Dengan performa tim yang masih jauh di bawah ekspektasi, Rooney jadi bagian penting dalam rencana Moyes."Dengan kemampuan, pengalaman, hasrat untuk sukses yang dia miliki, dia adalah bagian vital dari rencana-rencana saya di masa depan dan saya benar-benar merasa senang dia sudah menerima tantangannya," ucap Moyes."Saya bilang pada Juli silam bahwa Wayne memiliki kesempatan yang luar biasa besar untuk menjadi seorang legenda sejati dalam sejarah klub yang kaya dan panjang ini.""Dia sekarang hanya berjarak 42 gol dari rekor gol Sir Bobby (Charlton) pencetak gol terbanyak kami dan menjadi pemain pertama United yang mampu mengemas 250 gol untuk klub.""Peluang ini hanya datang untuk para pemain spesial dan saya percaya bahwa Wayne akan mencetak rekor bagus yang akan memakan waktu lama untuk bisa dicapai. Ini benar-benar kabar baik bagi semua orang yang terkait dengan klub," pungkas Moyes.

Jose Mourinho Yakin Kalahkan Everton


Menghadapi Everton di Stamford Bridge, Jose Mourinho sangat yakin Chelsea bisa mengamankan tiga angka penuh dan mempertahankan posisi mereka di puncak klasemen Liga Primer Inggris.

Hal itu ditegaskannya setelah disodorkan fakta Chelsea sempat takluk di Goodison Park pada September tahun lalu.

"Kami merasa kami bisa mengalahkan mereka karena kami yakin dengan kemampuan kami sendiri," kata Mourinho, Sabtu (22/2).

"Kami tak terpengaruh secara negatif atau positif pada apa yang terjadi di masa lalu."

Mourinho juga yakin bisa tetap bertahan di puncak klasemen dalam jangka waktu yang lama.

"Kami memuncaki klasemen, tapi kami bisa turun ke peringkat dua apabila Manchester City memenangi satu laga sisa. Jika kami bisa menang besok, kami akan tetap di posisi kami," tandasnya.

Stefano Tacconi Prediksi Juventus Atasi Torino


Kiper legendaris Juventus, Stefani Tacconi, coba melempar opininya jelang duel derby Turin yang mempertemukan Si Nyonya Tua dengan Torino.

Seperti sudah diduga, Tacconi memprediksi Juve-lah yang akan jadi pemenang meski performa Il Toro sedang menanjak. Skor 2-0 jadi tebakannya.

"Sungguh sulit memprediksi pertandingan ini. Torino sedang melalui musim indahnya, sementara Juventus masih jadi klub adidaya," ujar Tacconi, seperti dikutip Goal Italia.

"Pertandingan akan berlangsung rumit meski Juve bakal memegang kendali permainan. Juve bisa menang dengan skor 2-0, tapi bila ada kejutan skor imbang 2-2 bisa jadi hasil akhir," tandasnya.

Iker Casillas Mungkin Dapat Jatah Di La Liga Spanyol


Carlo Ancelotti mengisyaratkan Iker Casillas kemungkinan akan mendapat jatah bermain di kompetisi domestik La Liga Spanyol musim ini.

Sebelumnya Casillas lebih sering dimainkan di ajang Copa Del Rey dan Liga Champions, dengan La Liga menjadi milik Diego Lopes.

Namun, saat ditanya jurnalis mengenai kemungkinan Real Madrid tampil di final Liga Champions, dan Casillas mungkin tak bermain selama sebulan dari laga terakhirnya di final Copa Del Rey, Carlo Ancelotti mengungkapkan kemungkinan untuk melakukan perubahan di sektor penjaga gawang.

"Saya bukannya tidak akan menurunkan Iker pada satu atau dua laga liga kami," kata Ancelotti, Jumat (21/2).

"Kami akan membicarakan kemungkinan itu jika benar kami bisa bermain di final Liga Champions," tandasnya.

Ciro Immobile Tak Ingin Dicap Sebagai Pembunuh



Jelang duel derby Turin akhir pekan nanti, media mulai memanas-manasi khalayak dengan beritanya. Salah satunya adalah insiden tekel brutal Ciro Immobile terhadap Carlos Tevez di pertemuan pertama.

Sang pelaku mengaku sudah amat gerah dengan pemberitaan tersebut. Striker berusia 24 tahun itu pun menyebut jika dirinya tak ingin disebut sebagai pembunuh karena peristiwa tersebut.

"Sungguh sedih terus melihat foto [tekel Immobile pada Tevez] itu di Twitter. Saya sama sekali tak berniat menghancurkan kaki Tevez. Tak ada niatan untuk itu," sesal Immobile pada Sky Italia.

"Segala pemberitaan terkait momen tersebut membuat hati saya terluka. Saya bagai seorang pembunuh, saya tak menginginkan predikat tersebut. Saya tak ingin hal itu kembali terjadi," harapnya.

Mark Hughes Peringatkan Manuel Pellegrini



Mark Hughes memperingatkan Manuel Pellegrini untuk tetap meningkatkan performa Manchester City di setiap musimnya jika ingin bertahan di posisinya.

Menurut mantan pelatih Manchester City itu, mengantar tim meraih hasil yang lebih baik dibanding musim sebelumnya adalah sebuah keharusan di Etihad Stadium.

"Ia sudah menunjukkan perkembangan tahun ini. Saya tak berpikir mereka bisa lolos ke fase berikutnya di Liga Champions sebelumnya," kata Hughes, Jumat (21/2).

"Roberto Mancini tak bisa melakukannya, tapi sekarang mereka bisa melakukannya dengan baik. Hal itu merupakan sebuah perkembangan saya pikir. Selama ia bisa terus membawa tim dan klub berkembang, maka ia akan baik-baik saja."

"Sheikh Mansour merupakan pemilik klub yang banyak menuntut, jadi tak ada perbedaan dari orang lain dalam hal itu. Anda harus mendapatkan hasil yang diinginkan pemilik klub."

"Mereka memiliki definisi tersendiri dari apa yang mereka harapkan atas investasi yang sudah mereka lakukan, dan mereka ingin klub terus berkembang," tandasnya.

Marco Materazzi Minta Maaf Pada Lucio


Perang komentar antara mantan rekan setim, Marco Materazzi dan Lucio, akhirnya usai. Matrix menyampaikan ucapan permintaan maaf pada mantan duetnya di FC Internazionale tersebut.

Seperti diketahui, pria 40 tahun itu menyindir Lucio yang masih berkarier di usia 35 tahun. Mantan kapten Brasil itu kemudian balik menyerang Materazzi dengan menyebutnya sebagai pemain yang kasar baik di dalam maupun luar lapangan.

"Saya sangat menyesalkan perkataan Lucio pada saya. Namun saya harus meminta maaf padanya pada pernyataan saya dahulu," ujar Materazzi pada Sportmediaset.

"Saya malah harus berterima kasih padanya karena membantu saya menjadi seorang pemenang. Juara dunia layaknya Lucio tak perlu diragukan kapasitasnya," tandas mentan bek yang pernah berkonflik dengan Zinedine Zidane tersebut.