Pencarian Data

Saturday, March 22, 2014

Patrice Evra Bidik Kemenangan Di Derby Manchester



Kekalahan 3-0 di Old Trafford minggu lalu dari Liverpool diharapkan menjadi momen terakhir bagi Manchester United untuk mengecewakan pendukung mereka di kandang sendiri.

Hal itu diungkapkan Patrice Evra jelang laga menghadapi Manchester City pada pertengahan minggu ini.

"Fans tak ingin kecewa lagi ketika kami menghadapi tetangga kami. Jika Anda kalah 3-0 dari Liverpool, Anda berpikir fans akan menyoraki Anda," kata Evra, Minggu (23/3).

"Saya pikir kami pantas mendapatkannya, bukan kejutan. Tapi saya terkejut karena mereka terus mendukung hingga detik terakhir. Anda harus memastikan ketika pendukung Anda terus mendukung, Anda bisa memberikan balasan yang sama baiknya."

"Saya tak pernah senang kalah dari Liverpool. Cara kami kalah menyakitkan saya. Kami harus memastikan kami sudah sepenuhnya pulih. Kami harus bangga bermain dengan seragam ini dan setelahnya segala hal bisa terjadi."
"Menghadapi Manchester City, satu hal yang bisa saya janjikan adalah kami akan memberikan segalanya," tandasnya.

Salah Kartu Merah, Wasit Chelsea Vs. Arsenal Menyesali Keputusannya


Wasit Andre Marriner mengungkapkan kekecewaannya saat salah memberikan kartu merah di laga Sabtu (22/3) tadi malam, dalam laga antara Chelsea dan Arsenal.

Marriner menghadiahi Chelsea sebuah penalti di menit 15 setelah Alex Oxlade-Chamberlain yang melakukan handball untuk menggagalkan gol Chelsea. Namun, sang wasit malah memberikan kartu merah itu kepada Kieran Gibbs.

Oxlade-Chamberlain sudah memberitahu sang wasit bahwa ialah pelakunya, tapi keputusan tetap tidak bisa diubah.

"Insiden salah orang sangatlah langka dan biasanya terjadi karena beberapa faktor teknis," ujar sebuah pernyataan yang diluncurkan oleh Professional Game Match Officials Limited. "Mengingat ini adalah keputusan sulit, Andre sangat menyesal karena gagal mengidentifikasi orang dengan tepat."

Chelsea akhirnya menang 6-0 dalam laga di Stamford Bridge
 itu.

Luis Suarez Merendah Soal Kans Juara Liga Primer Inggris


Walau Liverpool baru saja menang 6-3 atas Cardiff City, Luis Suarez tetap merendah soal kans juara Liga Primer Inggris musim ini.

The Reds kini duduk di peringkat kedua klasemen sementara dengan 65 poin dari 30 laga, empat poin tertinggal dari Chelsea di puncak dengan menyimpan satu laga.

"Saya pikir dua tim yang jadi kandidat juara adalah Chelsea dan Manchester City," ujarnya pada SkySports News. "Tapi kami akan terus berjuang."

"Kami bekerja sangat keras dan fokus pada dua laga selanjutnya karena kami main di kandang [melawan Sunderland dan Tottenham Hotspur]. Sulit untuk memenangkan gelar, tapi dalam sepakbola Anda tidak tahu kepastiannya."

Suarez mencatatkan hat-trick 
bagi Liverpool dalam kemenangan 6-3 tadi malam (22/3).

David Moyes Sanjung Gol Pembuka Wayne Rooney


David Moyes menilai gol pembuka Wayne Rooney melawan West Ham United, Minggu (23/3) dinihari tadi, sebagai satu gol yang brilian.

Penyerang Inggris ini mencetak gol pertamanya dari luar kotak penalti saat laga baru berlangsung delapan menit. Laga pun berakhir dengan skor 2-0 untuk Manchester United di Upton Park.

"Saya ingin sepakan itu melaju lurus dan saya tak tahu apakah itu akan membentur mistar atau malah melebar," ujar Moyes pada Sky Sports News"Syukurlah, bola malah masuk gawang."

"Itu adalah gol yang brilian, teknik luar biasa, dan dalam diri Wayne kami punya pemain yang mampu melakukan hal-hal seperti itu di lapangan. Rasanya seperti gol [David] Beckham [melawan Wimbledon pada 1996]. Wayne mencobanya, dan berhasil!"
United kini duduk di peringkat ketujuh klasemen sementara, mengantongi 51 poin dari total 30 laga.

Dibantai Chelsea, Arsene Wenger Salahkan Diri Sendiri


Arsene Wenger menyalahkan dirinya sendiri atas kekalahan 6-0 dari Chelsea, Sabtu (22/3), dan ia menganggap kekalahan itu sebagai mimpi buruk. The Gunners langsung tertinggal 3-0 dan kehilangan satu pemain hanya dalam 17 menit dan Wengers tak ingin menyalahkan siapapun selain dirinya.

"Ini adalah mimpi buruk dan saya bertanggung jawab sepenuhnya. Yang terpenting sekarang adalah merespoin kekalahan pada laga besok Selasa (25/3)," ujarnya pada situs resmi klub. "Para pemain juga sangat kecewa, kami semua. Kami harus seger mempersiapkan diri untuk laga selanjutnya."

Kekalahan ini membuat Arsenal tertinggal tujuh poin di belakang Chelsea di Liga Primer dan harapan untuk juara pun semakin tipis.

"Kami berada dalam situasi buruk, tapi kami ingin bangkit. Kami melakoni dua laga berat melawan Tottenham Hotspur dan Chelsea, kalau saja seri semua kami sudah mengantongi dua poin. Kami harus menang di laga salanjutnya. Itulah fokus kami sekarang dan kami akan menjadi lebih kuat," tandasnya.

Arsenal akan menghadapi Swansea City
 tengah pekan nanti.

Laporan Pertandingan Chievo - AS Roma

Laporan Pertandingan: Chievo Verona 0-2 AS Roma

Bertandang ke Marc Antonio Bentegodi, AS Roma sukses memecundangi Chievo Verona lewat skor 2-0, pada giornata 29 Liga Italia Serie A, Minggu (23/3) dini hari WIB.




Bertandang ke Marc Antonio Bentegodi, AS Roma sukses memecundangi Chievo Verona lewat skor 2-0, pada giormata 29 Liga Italia Serie A, Minggu (23/3) dini hari WIB.

Gol-gol yang dicetak Gervinho dan Mattia Destro di babak pertama menyudahi perlawanan tuan rumah. Hasil tersebut membuat mereka kokoh di peringkat kedua klasemen sementara dengan koleksi 64 poin.

Babak Pertama

Bermain di hadapan publiknya sindiri, Marc Antonio Bentegodi, Chievo Verona tampil memble. AS Roma yang tak lagi dibela Kevin Strootman malah mampu mendominasi jalannya laga. Peluang emas langsung datang dari sepakan keras Francesco Totti di menit ke-11. Beruntung Agazzi sigap menepis bola,

Berselang lima menit, Radja Nainggolan mengulang cara yang sama dengan sang kapten. Dari jarak 20 yard, Nainggolan melepaskan tembakan kencang yang lagi-lagi sukses dihalau Agazzi.

Kebuntuan akhirnya pecah di menit ke-16. Liukan memesona Gervinho dari sisi kanan pertahanan Chievo diakhiri dengan sepakan keras yang menghujam gawang Chievo! Skor 1-0 untuk Tim Serigala.

Unggul satu gol, Roma sama sekali tak menurunkan tempo permainan. Sebaliknya dengan Cheivo, mereka seakan tak menemukan cara dan celah untuk bangkit. Memasuki menit ke-30, berturut-turut Gervinho, Rodrigo Taddei, dan Mattia Destro gagal memaksimalkan kans lanjutan.

Pun halnya dengan percobaan yang dilancarkan Miralem Pjanic di menit ke-40. Selang dua menit kemudian, Roma akhirnya sukses menjauh lewat gol ciamik Mattia Destro. Kedudukan 2-0 untuk Morgan De Sanctis cs jadi hasil di babak pertama.

Babak Kedua

Tertinggal dua gol, memanfaatkan dukungan tifosinya Chievo memberikan reaksi. Skema bola-bola pendek mereka terapkan. Radovanovic dan Bentivoglio tampil baik sebagai poros pengalir bola ke lini depan. Sayangnya pertahanan kokoh Roma membuat mereka tak memiliki peluang berarti.

Kans Ivan Radovanovic di menit ke-51 jadi contohnya. Meluncurkan tendangan kencang menyusur tanah dari jarak 25 yard, De Sanctis sukses membuang bola ke luar lapangan. Terus diserang, perlahan namun pasti Il Giallorossi mampu bangkit dan kembali menguasai jalannya laga.

Destro nyaris saja menorehkan gol keduanya andai eksekusinya tak melebar, memanfaatkan umpan ciamik Taddei. Nainggolan kembali gagal mencatatkan namanya di papan skor, tatkala sepakan first time-nya masih melebar hasil umpan cantik Gervinho.

Tandukan Mehdi Benatia menyambut sepak pojok Pjanic dan sepakan melebar Gervinho hasil sodoran si pemain Bosnia, akhirnya menutup duel ketat ini dengan skor 2-0 untuk AS Roma. Hasil tersebut membuat mereka kokoh di peringkat kedua klasemen sementara dengan koleksi 64 poin.
Susunan Pemain

Chievo Verona: 
Agazzi; Dainelli, Cesar, Sardo, Frey; Lazarevic, Radovanovic, Bentivoglio, Rigoni; Stoian, Paloschi
AS Roma: 
De Sanctis; Maicon, Benatia, Castan, Romagnoli; Nainggolan, Taddei, Pjanic; Gervinho, Destro, Totti 

Laporan Pertandingan West Ham United - Manchester United

Laporan Pertandingan: West Ham United 0-2 Manchester United

Dua gol Rooney berhasil memastikan tiga angka krusial untuk Manchester United dalam lawatan ke kandang West Ham, Minggu (23/3) dini hari WIB.




Wayne Rooney menjadi bintang lapangan bagi Manchester United setelah sumbangan dua golnya ke gawang West Ham berhasil memastikan tiga angka krusial bagi timnya dalam laga yang berlangsung di Boleyn Ground, Minggu (23/3) dini hari WIB.

Babak pertama:

Tampil mendominasi sejak awal laga, United membuka keunggulan cepat di menit kedelapan, tembakan indah Wayne Rooney dari jarak jauh melesat ke gawang West Ham, tanpa mampu dibendung Adrian yang salah dalam penempatan posisi.

Shinji Kagawa mendapat peluang emas untuk menggandakan keunggulan di menit ke-25, berdiri bebas di dalam kotak penalti tuan rumah, sayang tembakan kaki kirinya masih mampu dimentahkan Adrian.

Semenit kemudian West Ham balas mengancam, hanya saja lini belakang United masih disiplin dalam membaca pergerakan cepat Mohamed Diame.

Memasuki setengah jam permainan, diawali pergerakan Rooney dari sisi kiri, umpan silangnya mampu disambut Juan Mata. Mengecoh dua pemain lawan sebelum melepaskan tembakan yang mengarah ke tangkapan Adrian.

Koordinasi buruk barisan belakang West Ham kembali mampu dieksploitasi oleh Rooney untuk mengemas gol keduanya di laga ini di menit ke-33, memaksimalkan halauan kurang sempurna Mark Noble ketika menghadang umpan silang Ashley Young.

Hingga turun minum, kedudukan sementara ini tetap bertahan dan United menutup paruh pertama dengan keunggulan atas West Ham.

Babak kedua:

West Ham mengawali babak kedua dengan intensitas serangan tinggi, beberapa peluang tercipta ke gawang De Gea, akan tetapi belum membuahkan hasil.

Tak mau ketinggalan, United mengimbangi tempo permainan tuan rumah. Melalui pergerakan dinamis Juan Mata, Young dan Kagawa, ketiganya menghadirkan dukungan penuh bagi kinerja Rooney di sektor depan.

Masuknya Matt Jarvis menggantikan Diame di pertengahan babak kedua belum mampu memberikan inspirasi bagi barisan penyerang The Hammers dalam membongkar pertahanan rapat United.

Memasuki sepuluh menit waktu normal tersisa di babak kedua, Moyes melakukan dua pergantian dengan memasukan Hernandez dan Welbeck untuk mengisi tempat Juan Mata dan Rooney.

Melemahnya tekanan yang dilancarkan United membuat West Ham leluasa melakukan penguasaan bola di lini tengah, hanya saja kembali kinerja lini depan mereka belum maksimal.

Tidak ada tambahan gol tercipta sepanjang babak kedua dan keunggulan United atas West Ham tetap bertahan hingga pertandingan berakhir.

Susunan Pemain: 

West Ham United (4-2-3-1): Adrian; Demel, Tomkins, Collins, McCartney; Noble, Diame (Jarvis 58'); Taylor (Nocerino 84'), Nolan (C.Cole 72'), Downing; Carroll.
Cadangan: Jaaskelainen, Reid, Armero, J.Cole.

Manchester United (4-4-1-1): De Gea; Rafael, Jones, Carrick, Buttner; Mata (Welbeck 78'), Fletcher, Fellaini, Young; Kagawa; Rooney (Hernandez 77').
Cadangan: Lindegaard, Evra, Nani, Cleverley, Januzaj.

Dibantai Chelsea, Arsene Wenger Salahkan Diri Sendiri

Kekalahan 6-0 membuat Arsenal tertinggal tujuh poin di belakang Chelsea di Liga Primer dan harapan untuk juara pun semakin tipis, Wenger pun mengkambinghitamkan dirinya sendiri.


Arsene Wenger menyalahkan dirinya sendiri atas kekalahan 6-0 dari Chelsea, Sabtu (22/3), dan ia menganggap kekalahan itu sebagai mimpi buruk. The Gunners langsung tertinggal 3-0 dan kehilangan satu pemain hanya dalam 17 menit dan Wengers tak ingin menyalahkan siapapun selain dirinya.

"Ini adalah mimpi buruk dan saya bertanggung jawab sepenuhnya. Yang terpenting sekarang adalah merespoin kekalahan pada laga besok Selasa (25/3)," ujarnya pada situs resmi klub. "Para pemain juga sangat kecewa, kami semua. Kami harus seger mempersiapkan diri untuk laga selanjutnya."

Kekalahan ini membuat Arsenal tertinggal tujuh poin di belakang Chelsea di Liga Primer dan harapan untuk juara pun semakin tipis.

"Kami berada dalam situasi buruk, tapi kami ingin bangkit. Kami melakoni dua laga berat melawan Tottenham Hotspur dan Chelsea, kalau saja seri semua kami sudah mengantongi dua poin. Kami harus menang di laga salanjutnya. Itulah fokus kami sekarang dan kami akan menjadi lebih kuat," tandasnya.

Arsenal akan menghadapi Swansea City tengah pekan nanti.

Antonio Cassano Bakal Lakukan Apapun Demi Piala Dunia

Cassano kini fokus untuk terus meningkatkan performanya di Serie A demi pergi ke Piala Dunia 2014.


Striker andalan Parma, Antonio Cassano, mengaku masih memiliki hasrat yang besar pergi ke Piala Dunia 2014.

Maklum ia ingin bayaran yang setimpal dari pelatih Italia, Cesare Prandelli, atas performa gemilangnya di Serie A. Peter Pan bahkan bersedia melakukan apapun untuk pergi ke Brasil esok.

Bak gayung bersambut, Prandelli kembali menegaskan bahwa peluang pemain berusia 31 tahun itu untuk masuk skuat inti Gli Azzurri di Piala Dunia masih sama besar dengan para pemain Italia lainnya.

"Saya sudah mendengar komentar Prandelli dan saya bersyukur karenanya. Saya harus berterima kasih atas kesempatan yang ia berikan," ujar Cassano, seperti dikutip Corriere dello Sport.

"Hal ini membuat saya termotivasi untuk jadi lebih baik lagi. Saya ingin melupakan semua hal buruk yang terjadi di masa lampau dan fokus menatap masa depan. 

"Saat ini yang saya inginkan adalah Piala Dunia. Saya siap melakukan apa pun demi pergi ke Brasil. Saya terima tantangan Prandelli!" pungkasnya optimistis.

Laporan Pertandingan Chelsea - Arsenal

Laporan Pertandingan: Chelsea 6-0 Arsenal

Malapetaka hebat bagi hari besar Arsene Wenger hadir di Stamford Bridge: kebobolan enam gol plus bertanding dengan sepuluh pemain sejak menit 15.



Stamford Bridge, Sabtu (22/3) malam WIB ini, menjadi momen ironi bagi Arsene Wenger. Sang manajer Arsenal yang tengah merayakan laga ke-1000 bersama klubnya itu harus mengakui keunggulan tuan rumah Chelsea dengan skor teramat telak, 6-0. 

Kekalahan ini semakin pedih setelah The Gunners harus bermain dengan sepuluh orang sejak menit 15 setelah Kieran Gibbs diusir wasit secara kontroversial. Namun, apresiasi tetap harus diberikan kepada pasukan Jose Mourinho yang memang tampil menggila sejak menit pertama. Kans juara Liga Primer Inggris bagi Arsenal pun semakin tipis dan kini mereka tertinggal tujuh poin dari The Blues di puncak klasemen dengan 69 poin. 

Babak Pertama

Baru tujuh menit berjalan, laga ke-1000 Le Professeur langsung dirusak Chelsea yang sanggup menceploskan dua gol cepat. Gol pertama terjadi di menit kelima ketika serangan balik Chelsea -- usai peluang emas Olivier Giroud -- yang dipimpin Andre Schurrle mampu menemukan Samuel Eto'o di ujung kanan kotak penalti. Penyerang Kamerun ini lalu menusuk ke dalam, melewati Alex Oxlade-Chamberlain, dan melepaskan tembakan kaki kiri ke pojok gawang yang tak bisa dijangkau Wojciech Szczesny. 

Tak sampai dua menit berselang, tuan rumah semakin bersorak kegirangan berkat gol dari Schurrle yang sanggup membuat Szczesny memungut bola untuk kali kedua dalam tempo singkat. Schurrle patut berterima kasih kepada Nemanja Matic yang mampu mencuri bola dari lini tengah sebelum memberikan assist kepada dirinya. Chelsea pun unggul 2-0 hanya dalam waktu tujuh menit!

Catatan milestone Wenger di laga ini benar-benar rusak di menit 15. Berawal dari tembakan Eden Hazard yang diblok Oxlade-Chamberlain dengan tangannya sambil menjatuhkan diri, wasit Andre Marriner lalu menunjuk titik putih. Celakanya, bukannya menghukum Ox, sang wasit justru memberikan kartu merah kepada Kieran Gibbs. Hazard yang menjadi eksekutor penalti lalu menunaikan tugasnya dengan baik. Szczesny salah arah dan tiga gol sudah bersarang di gawangnya. 

Wenger yang tak mau hari besarnya makin tercoreng, lalu memasukkan Thomas Vermaelen untuk menggantikan Lukas Podolski guna memperkuat barisan belakang mereka sepeninggal Gibbs. Namun, The Blues terus gencar menyerang dan nyaris membuat gawang Szczesny kebobolan lagi di menit 31. Untungnya, kiper Polandia itu sanggup menepis tembakan David Luiz yang terdefleksi Schurrle. 

Akan tetapi, Arsenal tak tertolong lagi sekitar sepuluh menit kemudian. Fernando Torres yang menggantikan Eto'o di awal babak, sanggup mencuri bola dari Vermaelen. Penyerang asal Spanyol itu lalu memberikan sodoran kepada Oscar yang tinggal menyontek bola secara sederhana untuk menciptakan gol keempat timnya. Babak pertama pun berakhir dengan skor yang amat sangat mencolok, 4-0. 


Kartu merah kontroversial yang diterima Kieran Gibbs di menit 15 menambah malapetaka yang terjadi di laga ke-1000 Arsene Wenger bersama Arsenal ini.



Babak Kedua

Seperti yang diperkirakan, Chelsea sedikit mengendurkan serangan dan mencoba menguasai jalannya laga lewat ball possession. Adapun Arsenal beberapa kali mencoba menyerang untuk memperkecil ketertinggalan, seperti upaya yang dilakukan Santi Cazorla di menit 60. Namun setelahnya, permainan tak kenal puas dari Chelsea benar-benar membuat Arsenal hancur total.

Tepatnya di menit 66 Chelsea menambah satu gol lagi. Oscar yang mampu merebut umpan Tomas Rosicky lalu menemukan celah dari luar kotak penalti. Tanpa ampun, playmaker Brasil ini melakukan tembakan terarah yang tak bisa dibendung Szczesny.

Usai mencetak gol, Oscar lalu ditarik keluar dan digantikan Mohamed Salah. Justru dari sang darah segar inilah Chelsea kembali mencetak gol. Baru empat menit masuk, rekrutan Januari ini mampu memanfaatkan umpan Matic sebelum melepas tendangan mendatar yang mengolongi Szczesny. Setengah lusin gol pun bersarang di gawangnya. 

Seakan belum puas, Chelsea terus menggempur pertahanan tamunya itu. Di menit 84, Schurrle nyaris mencetak gol keduanya setelah sepakan jarak jauhnya hanya melebar tipis dari gawang. Tendangan geledek jarak jauh juga dilakukan Arsenal ketika Rosicky berupaya memperkecil keadaan di menit 90, namun berhasil ditepis Petr Cech.  

Sebelum injury time dua menit habis, Mourinho lebih dulu meninggalkan tempatnya di pinggir lapangan, menuju ke ruang ganti, dan Wenger ditinggalkan sendirian. Mou seakan ingin menjadikan Wenger sebagai pusat perhatian di laga ini. Apapun itu, laga ke-1.000 Wengerharus berakhir pedih dengan kekalahan telak 6-0. Rekor tak pernah menang The Professor atasThe Special One pun terus berlanjut. 


Susunan Pemain: 

Chelsea (4-2-3-1): Cech; Ivanovic, Cahill, Terry (c), Azpilicueta; Matic, David Luiz (Mikel 72'); Schurrle, Oscar (Salah 67'), Hazard; Eto'o (Torres 10')
Cadangan: Schwarzer, Kalas, Lampard, Ba

Arsenal (4-2-3-1): Szczesny; Sagna, Mertesacker, Koscielny (Flamini 46'), Gibbs; Arteta, Rosicky; Oxlade-Chamberlain (Jenkinson 46'), Cazorla, Podolski (Vermaelen 24'); Giroud
Cadangan: Fabianski , Kallstrom, Sanogo, Gnabry

Jelang Betis vs Atletico - Atletico Siap Ambil Keuntungan dari El Clasico

Madrid - Real Madrid dan Barcelona akan saling berhadapan di La Liga akhir pekan ini. Atletico Madrid pun tak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mengambil keuntungan dari hasil El Clasico itu.Ketiga tim itu saat ini bersaing ketat di papan atas klasemen La Liga. Madrid memimpin dengan 70 poin, diikuti Atletico yang punya 67 poin dan Barca yang mengumpulkan 66 poin.Di jornada 29 akhir pekan ini, Madrid dan Barca akan saling berhadapan di Santiago Bernabeu, Senin (24/3/2014) dinihari WIB. Sementara Atletico akan melawat ke markas Real Betis, Minggu (23/3/2014) malam WIB.Atletico bertekad meraup poin penuh dari lawatannya ke markas Betis yang baru saja disingkirkan Sevilla di ajang Liga Europa itu. Tambahan tiga poin dari laga ini bisa membawa Atletico menempel Madrid atau makin menjauh dari Barca."Jika kami menang di Sevilla, hasil apapun akan bagus. Barcelona akan memainkan trik terakhir mereka untuk menjegal Madrid. Hasil apapun akan berguna untuk Atletico," ujar kapten Atletico, Gabi di situs resmi klub."Ini adalah pertandingan penting untuk tetap berada di papan atas. Aku ucapkan selamat untuk usaha yang mereka lakukan melawan Sevilla di Liga Europa. Kami memperkirakan sebuah tim yang punya sedikit peluang di liga dan di hari Minggu mereka akan mencoba untuk melakukan yang terbaik," imbuhnya.

Barcelona dan Pemberontakan yang Tak Pernah (Dibuat) Selesai

“Barcelona adalah senjata dahsyat dari sebuah bangsa tanpa negara,” Manuel Vazquez Montalban.

El Clasico bukan sekadar pertarungan 90 menit di lapangan antara Real Madrid melawan Barcelona. Ini adalah pertarungan dua bangsa dalam sebuah negara bernama Spanyol.

Memang, bayangan kudeta, perlawanan, atau pemberontakan akan selalu membayangi El Clasico. Karena itu pula gaungnya akan selalu lebih tinggi, dinanti, dan diikuti ketimbang laga besar lain, atau derbi sekalipun. Sebab yang klasik sudah tentu punya nilai lebih tinggi.

Kedua klub memang selalu (dan akan senantiasa) berseberangan karena paham-paham klasik. Real klub ibu kota, Barca pinggiran dan lepas pantai. Real asli Spanyol, Barca kebanyakan imigran. Fans Real menganut paham kanan yang nasionalis, fans Barca memilih kiri dengan etno nasionalis. Dan, tentu saja, Los Blancos jadi wakil kerajaan, sementaraBlaugrana sang pemberontak. 

Bangsa Imigran yang Ingin Merdeka

Biasanya, kisah pemberontakan biasanya lahir dari tanah kesengsaraan. Tapi tidak dengan cerita dari Katalunya. Daerah yang berada di pesisir pantai ini sebenarnya lebih maju dan kaya. 

Bahkan ketika belum bersatu dalam Kerajaan Spanyol, Katalunya adalah pusat perdagangan, kebudayaan, dan jalur utama masuk ke Spanyol, dengan banyak saudagar dan kapitalis yang berkuasa di Spanyol berasal dari Barcelona. Tak heran jika mereka merasa lebih dulu tahu tentang dunia luar, ketimbang Madrid yang pusat pemerintahannya di tengah-tengah Spanyol.

Di pantai Katalunya, imigran-imigran yang tersisih dari negaranya masing-masing diterima dengan baik. Mereka dianggap saudara senasib. Dan pembauran inilah yang menjadikan Katalunya merasa berbeda. Mereka berpikir sebagai bangsa yang harus bebas. Apalagi para awak kapal yang bersandar di pelabuhan kerap membawa cerita indah tentang kemerdekaan negara-negara luar. 

Menjadi pusat perdagangan dan kebudayaan juga membuat Katalunya berpikir bahwa mereka lebih besar dari Spanyol. Apalagi Katalunya selalu berada di bawah pendudukan politik tuan tanah Kastilia yang tinggal di Madrid, meski lebih maju secara ekonomi. Katalunya hanya sapi perah bagi kumpulan orang udik tak berdaya yang duduk-duduk manis di Madrid.

Keresahan itu lalu dimanfaatkan oleh pengusaha Swiss dan eks kapten FC Basel, Joan Gamper, dengan beberapa ekspatriat Inggris yang doyan sepakbola. Mereka mendoktrin Katalunya bahwa perjuangan mereka bisa disuarakan melalui sepakbola.

Gamper, yang kemudian meminta dirinya dipanggil “Hans Gamper” agar lebih Spanyol, mendirikan Football Club Barcelona pada 1899. Sang presiden pertama, yang belum move on dari FC Basel itu, lalu memilih warna merah biru klub lamanya untuk dipasang di Barcelona. Berikut pula terkait logo. Gamper menyelipkan logo FC Basel dan logo bendera negara Swiss di dalam logo Barcelona. 

Klub itu kemudian dibalut slogan, “Mes que un club”, atau lebih dari sebuah klub. Tagline itu untuk selalu mengingatkan bahwa Barca bukanlah klub sepak bola biasa dan bahwa Katalunya bukan sekadar daerah biasa. Ada yang diperjuangkan dengan didirikannya klub ini.



Seorang penulis kontemporer besar di Spanyol, Manuel Vazquez Montalban, dalam novelnya berjudul "Offside", menggambarkan Barca dan Katalunya dengan kalimat, "senjata dahsyat dari sebuah bangsa tanpa negara".

Dengan identitas itulah Barca dan Katalunya terus menunjukkan identitas mereka yang istimewa dan perlahan mengeluarkan hawa memberontak. 

Tapi pemberontakan ini boleh dikatakan setengah-setengah. Sedari dulu Katalunya memang bergaya ingin merdeka dan mengklaim lebih besar ketimbang Spanyol. Namun tak pernah ada usaha serius untuk memberontak, atau katakanlah melakukan perang demi mewujudkan kemerdekaannya sendiri.

Patut diingat bahwa sebagai kota perdagangan dan industri, selain memiliki buruh, Katalunya juga jadi gudangnya orang kaya yang borjuis. Meski ideologi sosialisme dan anarkisme tumbuh subur disana, Katalunya-pun adalah rumah bersahabat bagi kapitalis yang mengenggam Spanyol.

Pilihan Raja

Meski hanya setengah-setengah, aura permusuhan dari publik Katalunya tetap sampai pada Kastillia yang menguasai Spanyol. Ditambah lagi saat itu mulai muncul gelagat pemberontakan dari anti monarki. Di bawah kekuasaan Raja Alfonso XIII, para Kastillia juga mencari cara untuk mengatasi para kelompok anti monarki, terutama Katalunya dengan Barcelonanya.

Mereka mencoba membentuk klub tandingan di Barcelona pada 1900. Klub ini dinamakan Espanyol dengan nama yang diambil dari kata Espana dan Spanyol, demi alasan nasionalisme. Belakangan klub ini malah terlihat jadi blunder. Espanyol yang mewakili Spanyol malah lebih kecil ketimbang Barca yang hanya mewakili Katalunya. 

Tak hanya di Barcelona, kerajaan Kastillia juga membentuk klub-klub nasionalis pada beberapa kota. Penggunaan kata Real (Royal, kerajaan), adalah ciri dari klub-klub bentukan mereka. 

Di Madrid yang merupakan kota pusat pemerintahan, kerajaan juga berupaya membuat klub besar untuk menandingi Barcelona. Namun di sana sudah terlanjur berdiri Madrid Football Club yang didirikan Juan Padros pada 1902. Klub ini adalah hasil usaha Padros dalam menyatukan kembali New Foot-Ball de Madrid dan Club Espanol de Madrid yang terpecah dari induknya, Football Club Sky (berdiri 1897). 

Tak perlu berepot-repot lagi mendirikan klub lagi, kerajaan kemudian memilih Madrid FC untuk jadi wakilnya. Tim ini pun diberi subsidi dari kerajaan. 

Selain letaknya di Madrid, Raja Alfonso, memilih klub ini juga karena prestasinya. Salah satunya dengan menjuarai Piala Spanyol 1905. Lebih-lebih mayoritas pemainnya bermain untuk tim nasional kerajaan yang menggunakan nama Royal Spanish Football Federation. 

Raja Alfonso pun lalu memberikan tambahan kata Real (Royal) pada Madrid FC, sehingga namanya berubah menjadi Real Madrid club de Futball pada 1920.

Sempat Di Atas Angin

Liga pertama di Spanyol pada 1929 kian melecut semangat Katalunya. Saat itu, dari 10 klub peserta, Barcelona dikepung lima klub milik kerajaan. Mereka adalah Real Club Deportivo Espanol, Real Racing Club de Santander, Real Madrid Foot-ball Club Madrid, Real Sociedad de Foot-ball, dan Real Union Club.

Karena semangat yang tinggi, Barcelona kemudian lolos ujian pertamanya ini. Mereka jadi juara dengan keunggulan dua angka dari Madrid pada akhir musim. Publik Katalunya senang dan bangga, sementara Kastillia gigit jari.

Setelah merebut dua gelar juara di kompetisi berikutnya, Madrid sempat terpuruk karena berdirinya negara republik demokratis, Segunda Republica Espanola. Kekuasaan King Alfonso pun jatuh, menyusul anti monarki yang memenangkan pemilihan secara mayoritas. 

Sang raja lalu kabur ke luar negeri saat Republik Kedua Spanyol diproklamirkan pada 14 April 1931.

Pada masa pendudukan Segunda Republica Espanola yang berlangsung hampir delapan tahun ini, Barcelona berada di atas angin. Mereka punya banyak teman senasib untuk benar-benar mewujudkan pemberontakan dan kemerdekaan. Tapi mereka tetap tidak berani menyuarakan kemerdekaan Katalunya sendiri.

Dengan restu raja, Generalissimo Francisco Franco akhirnya mampu mengembalikan kekuasaan kerajaan pada 1939. Kali ini giliran para pemberontak dibumi-hanguskan. Tak terkecuali Barcelona yang selalu mendengungkan superiotas kebangsaan Katalunya. 

Perang saudara di Spanyol pun pecah.

Sebagai pendukung Real Madrid, Franco juga mengikuti perkembangan sepakbola secara obsesif. Ia juga tahu bahwa Barcelona adalah alat Katalunya. Menurutnya, kesebelasan Barca adalah deretan keempat yang harus disapu bersih dari Spanyol setelah kelompok komunis, anarkis, dan separatis.

Sebenarnya, Franco bisa saja membunuh semua orang yang berkaitan dengan Barca untuk menyapu bersih segala hal yang berkaitan dengan Katalunya. Namun ia mengurungkan niatnya. 

Alih-alih membumi-hanguskan, Franco lebih berkonsentrasi untuk membunuh semangat perlawanan Barca dan sejarahnya. Seperti saat pengeboman Katalunya pada 16-18 Maret 1938. Yang dihancurkan Franco adalah kantor Barcelona tempat menyimpan piala-piala kesebelasan, bukan Nou Camp.

Ia tentu saja bisa meratakan Nou Camp, sebagaimana ia bisa melarang publik Katalunya menggunakan bahasa ibunya sendiri. Tapi opsi ini tidak dilakukannya. Franco malah sengaja membuat Nou Camp sebagai tempat publik Katalunya meneriakkan perlawanan. Prinsipnya sederhana. Daripada Katalunya bergerilya di luar, Franco membuat suara-suara pemberontakan itu hanya bergema di dalam stadion.

Tujuannya jelas, rakyat Katalunya dipaksa hanya menyalurkan kemarahan mereka saat pertandingan berlangsung. Pada tempat yang ditentukan Franco, pada waktu yang disediakan Franco. Perlawanan melalui chant dan bendera khas senyera di dalam stadion, yang merupakan alat pelampiasan amarah penduduk Katalunya, sebenarnya justru alat peredam perlawanan yang paling efektif. 



Dengan dibuat puas bersuara di dalam stadion, penduduk Katalunya justru dibungkam perlawanannya.

Franco juga tak membubarkan Barcelona. Ia masih bermurah hati dengan hanya meminta klub tersebut mengganti nama dengan menggunakan bahasa Kastillia, Club de Futbal Barcelona. 

Ia juga mengerdilkan sejarah Barca. Pada 1943, dalam semifinal Piala Generalissimo (sekarang Copa Del Rey), ia menebar ancaman hukuman mati kepada Blaugrana. Hasilnya, Real yang menjadi lawan Barca menang fantastis 11-1. Kemenangan yang selalu dijadikan didengungkan Real tentang sejarah.

Pada akhirnya Franco sukses memadamkan pemberontakan di Spanyol. Segunda Republica Espanola, yang mengungsi ke Meksiko, membubarkan diri pada 1976.

Namun Franco tak pernah bisa memadamkan semangat perlawanan pendukung Barcelona pada pemerintah dan alatnya, Real Madrid. Sakit hati kepada Real dan Kastillia tetap abadi hingga kini. Tapi, tetap sebatas pertandingan sepakbola dan di dalam Nou Camp. 

Karena sikap yang tak pernah benar-benar mau memberontak itulah, Katalunya paling banter hanya mendapatkan otonomi atau daerah istimewa di Spanyol. Mereka tak pernah benar-benar bebas dan tak pernah benar-benar menuntut. Kemerdekaan dan kebesaran Katalunya hanya ada di dalam stadion. 

Persis seperti yang diinginkan Franco.