Ligaasia adalah agen bola terpercaya dan bertanggung jawab berlisensi Super Master yang melayani pembuatan account di Situs Perusahaan Betting Internasional.
Pencarian Data
Sunday, February 9, 2014
Samuel: Inter Memang Pantas Menang
Bayern Bantah Isu Transfer Martinez dan Mueller
Jumpa Fulham, 'Si Merah' Dituntut Ulangi Performa Saat Lawan Arsenal
Melawan Arsenal yang merupakan pemuncak klasemen di Anfield, Liverpool tampil prima dan sudah unggul 4-0 di 20 menit pertama laga, untuk kemudian akhirnya menang dengan skor 5-1.
Hasil ini membawa Liverpool kokoh di posisi keempat dengan 50 poin, cuma selisih enam angka dari Chelsea di puncak. Tak pelak kemenangan ini pun sudah memompa semangat para pemain untuk terus bersaing di papan atas.
Selaku kapten tim, Steven Gerrard, tahu bahwa fans pun kian meninggikan ekspektasi pada mereka pasca kemenangan itu. Maka itu Gerrard mewanti-wanti agar 'Si Merah' mampu mempertahankan performa itu saat bertemu juru kunci, Fulham, di Craven Cottage pertengahan pekan ini, untuk membuktikan prediksi banyak orang serta harapan fans.
Gerrard berkaca pada hasil saat melawan West Bromwich Albion yang berakhir 1-1 di mana beberapa hari sebelumnya Liverpool baru mengalahkan Everton 4-0.
"Saya pikir bahayanya adalah usai performa seperti itu, apakah kami bisa memotivasi diri kami untuk bisa mengulang sesuatu yang sama, saat melawan Fuham?," ujar Gerrard di Sky Sports.
"Jika kami bisa melakukannya, kami akan memperlihatkan performa yang sama saat melawan Fulham. Kami tampil fantastis saat melawan Everton (4-0) dan lalu terpeleset saat melawan West Brom (1-1) usai unggul lebih dulu. Kami tidak boleh mengulangi seperti itu lagi," sambungnya.
Lebih lanjut Gerrard juga menepis anggapan bahwa Liverpool saat ini pantas disebut sebagai salah satu kandidat juara. Sebab dengan posisi seperti sekarang dan kompetisi masih sisakan 13 pekan lagi, peluang The Anfield Gank jadi juara masih terbuka lebar.
"Menurut Brendan kami bukan favorit juara. Tanya saja kepada manajer (mengapa bisa seperti itu). Dengarkan, dia bilang seperti itu maka kami akan mendukung Brendan."
"Kami melakukan apa yang dia perintahkan dan dia bilang kami belum bisa bersaing memperebutkan juara, jadi kami fokus untuk finis empat besar dan lalu lihat setelahnya," tutupnya.
"Menurut Brendan kami bukan favorit juara. Tanya saja kepada manajer (mengapa bisa seperti itu). Dengarkan, dia bilang seperti itu maka kami akan mendukung Brendan."
"Kami melakukan apa yang dia perintahkan dan dia bilang kami belum bisa bersaing memperebutkan juara, jadi kami fokus untuk finis empat besar dan lalu lihat setelahnya," tutupnya.
Imbangi Manchester United, Steve Sidwell "Speechless"
Melawat ke Old Trafford pada pekan ke-25 Liga Primer Inggris, Sidwell membuka skor untuk The Cottagers di babak pertama sebelum United membalikkan keadaan berkat dua gol Robin van Persie dan Michael Carrick dalam tempo dua menit (78' dan 80').
Tapi, saat tiga angka tampak bakal menjadi milik tuan rumah, pada detik-detik penghabisan tandukan Darren Bent memaksa publik Old Trafford kembali bermuram-durja. Fulham sekarang masih di dasar klasemen, tapi keberhasilan mengimbangi sang juara bertahan tentunya dapat mendongkrak semangat dan kepercayaan diri tim untuk berjuang keluar dari zona degradasi.
"Ini satu poin masif, saya speechless," kata Sidwell kepada pers usai laga.
"Kami mengerahkan usaha besar dan dinaungi keberuntungan, tapi kami berhasil mendapatkan satu angka."
"Laga ini sulit. Tak pernah mudah datang ke sini, jadi semoga kami dapat menjadikannya titik tolak untuk sisa musim. Kami memiliki sejumlah kesempatan untuk 'membunuh' laga di babak pertama dan saya pikir kami layak meraih satu poin ini."
SPESIAL: Air Mata Mario Balotelli, Pele, Paul Gascoigne & Deretan Pesepakbola Lain
Menangis akan membuat sisi manusiawi seseorang terkuak. Pun menangis tidak akan membuat seorang pria, yang dianggap tabu menitikkan air mata menurut hukum sosial, mengurangi rasa 'ke-pria-annya' itu. Sepakbola sebagai representasi candradimuka kehidupan manusia, tentu juga tak pernah lepas dari tetes air mata para pemainnya.
Terkadang, sepakbola menjadi salah satu permainan terkejam. Kemenangan yang tinggal sejengkal kaki bisa langsung sirna tanpa ada tanda-tanda peringatan sebelumnya. Di satu waktu, sepakbola juga bisa membuat orang merasa begitu kesal, frustrasi, geram, benci, karena segalanya berjalan di luar rencana. Menguras emosi para pemain yang terlibat.
Itulah sekiranya yang dirasakan striker AC Milan Mario Balotelli yang tak kuasa membendung air matanya ketika ditarik keluar oleh Clarence Seedorf dan digantikan oleh Giampaolo Pazzini di menit 73 ketika timnya masih tertinggal 2-1 dari Napoli di San Paolo, Minggu (9/2) dini hari WIB. Balotelli terlihat menangis di bangku pemain dan di akhir laga, Rossoneri takluk 3-1.
Ada dua teori penyebab Balotelli menangis. Pertama, ia menangis karena ejekan berbau rasis oleh para suporter tuan rumah. Dan yang kedua -- yang paling masuk akal -- karena di pekan ini ia baru saja dipastikan menjadi seroang ayah berdasarkan hasil tes DNA. Pia, nama sang anak yang sudah berusia setahun lebih, tinggal di Naples bersama ibunya, Raffaella Fico. Mungkin Balotelli sudah menyiapkan selebrasi spesial kepada mereka, namun ia tampil underperform. Balo gagal dan ia pun menangis. Sesederhana itu.
"Kami adalah pemain dan ada kalanya kami menunjukkan dengan cara seperti itu. Saya tak melihat hal yang salah atau tidak normal mengenai hal ini. Saya juga kadang merasakannya juga," tutur Seedorf seusai laga. Terlepas dari penyebab mana yang benar, tangis dan performa buruk Balotelli malam itu menggambarkan Milan yang sedang terseok-seok di musim ini.
Tangisan striker berusia 23 tahun itu hanyalah salah satu dari sekian banyak momen serupa yang terjadi di dunia sepakbola. Mereka menangis karena menghadapi situasi yang berada di luar kemampuan mereka dan momen-momen seperti ini akan selalu lekat di pikiran para penggemar.
Terkadang, sepakbola menjadi salah satu permainan terkejam. Kemenangan yang tinggal sejengkal kaki bisa langsung sirna tanpa ada tanda-tanda peringatan sebelumnya. Di satu waktu, sepakbola juga bisa membuat orang merasa begitu kesal, frustrasi, geram, benci, karena segalanya berjalan di luar rencana. Menguras emosi para pemain yang terlibat.
Itulah sekiranya yang dirasakan striker AC Milan Mario Balotelli yang tak kuasa membendung air matanya ketika ditarik keluar oleh Clarence Seedorf dan digantikan oleh Giampaolo Pazzini di menit 73 ketika timnya masih tertinggal 2-1 dari Napoli di San Paolo, Minggu (9/2) dini hari WIB. Balotelli terlihat menangis di bangku pemain dan di akhir laga, Rossoneri takluk 3-1.
Ada dua teori penyebab Balotelli menangis. Pertama, ia menangis karena ejekan berbau rasis oleh para suporter tuan rumah. Dan yang kedua -- yang paling masuk akal -- karena di pekan ini ia baru saja dipastikan menjadi seroang ayah berdasarkan hasil tes DNA. Pia, nama sang anak yang sudah berusia setahun lebih, tinggal di Naples bersama ibunya, Raffaella Fico. Mungkin Balotelli sudah menyiapkan selebrasi spesial kepada mereka, namun ia tampil underperform. Balo gagal dan ia pun menangis. Sesederhana itu.
"Kami adalah pemain dan ada kalanya kami menunjukkan dengan cara seperti itu. Saya tak melihat hal yang salah atau tidak normal mengenai hal ini. Saya juga kadang merasakannya juga," tutur Seedorf seusai laga. Terlepas dari penyebab mana yang benar, tangis dan performa buruk Balotelli malam itu menggambarkan Milan yang sedang terseok-seok di musim ini.
Tangisan striker berusia 23 tahun itu hanyalah salah satu dari sekian banyak momen serupa yang terjadi di dunia sepakbola. Mereka menangis karena menghadapi situasi yang berada di luar kemampuan mereka dan momen-momen seperti ini akan selalu lekat di pikiran para penggemar.
Olympique Lyon Pecundangi Tuan Rumah Nantes
Dengan hasil ini, Lyon untuk sementara naik ke urutan keenam dengan melompati Stade de Reims, yang menghuni satu tingkat di bawahnya.
Sementara itu, kekalahan di pertandingan ini menjadikan Nantes bertahan di posisi kesembilan, namun tempat mereka terancam lantaran FC Lorient masih memiliki satu pertandingan lebih banyak.
Lyon baru bisa unggul saat Alexandre Lacazette membobol gawang Remy Riou di menit ke-40, yang rupanya menjadi satu-satunya gol di babak pertama.
Di 45 menit terakhir, Lyon menambah keunggulannya melalui sepakan penalti menyusul dilanggarnya Lacazette di kotak terlarang. Bafetimbi Gomis yang menjadi algojo tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut untuk membawa timnya menjauh.
Akan tetapi, Filip Djordjevic mampu memperkecil keadaan dengan enam menit tersisa, namun Lyon berhasil menggondol pulang tiga poin sebagaimana pencetak gol Nantes itu diusir keluar jelang akhir laga.
Subscribe to:
Comments (Atom)







