Pencarian Data

Sunday, February 9, 2014

SPESIAL: Air Mata Mario Balotelli, Pele, Paul Gascoigne & Deretan Pesepakbola Lain


Menangis akan membuat sisi manusiawi seseorang terkuak. Pun menangis tidak akan membuat seorang pria, yang dianggap tabu menitikkan air mata menurut hukum sosial, mengurangi rasa 'ke-pria-annya' itu. Sepakbola sebagai representasi candradimuka kehidupan manusia, tentu juga tak pernah lepas dari tetes air mata para pemainnya. 

Terkadang, sepakbola menjadi salah satu permainan terkejam. Kemenangan yang tinggal sejengkal kaki bisa langsung sirna tanpa ada tanda-tanda peringatan sebelumnya. Di satu waktu, sepakbola juga bisa membuat orang merasa begitu kesal, frustrasi, geram, benci, karena segalanya berjalan di luar rencana. Menguras emosi para pemain yang terlibat. 

Itulah sekiranya yang dirasakan striker AC Milan Mario Balotelli yang tak kuasa membendung air matanya ketika ditarik keluar oleh Clarence Seedorf dan digantikan oleh Giampaolo Pazzini di menit 73 ketika timnya masih tertinggal 2-1 dari Napoli di San Paolo, Minggu (9/2) dini hari WIB. Balotelli terlihat menangis di bangku pemain dan di akhir laga, Rossoneri takluk 3-1. 

Ada dua teori penyebab Balotelli menangis. Pertama, ia menangis karena ejekan berbau rasis oleh para suporter tuan rumah. Dan yang kedua -- yang paling masuk akal -- karena di pekan ini ia baru saja dipastikan menjadi seroang ayah berdasarkan hasil tes DNA. Pia, nama sang anak yang sudah berusia setahun lebih, tinggal di Naples bersama ibunya, Raffaella Fico. Mungkin Balotelli sudah menyiapkan selebrasi spesial kepada mereka, namun ia tampil underperform. Balo gagal dan ia pun menangis. Sesederhana itu.

"Kami adalah pemain dan ada kalanya kami menunjukkan dengan cara seperti itu. Saya tak melihat hal yang salah atau tidak normal mengenai hal ini. Saya juga kadang merasakannya juga," tutur Seedorf seusai laga. Terlepas dari penyebab mana yang benar, tangis dan performa buruk Balotelli malam itu menggambarkan Milan yang sedang terseok-seok di musim ini. 

Tangisan striker berusia 23 tahun itu hanyalah salah satu dari sekian banyak momen serupa yang terjadi di dunia sepakbola. Mereka menangis karena menghadapi situasi yang berada di luar kemampuan mereka dan momen-momen seperti ini akan selalu lekat di pikiran para penggemar. 

No comments: